Bisnis Indonesia, 5 September 2011
“Catatan Awal Pekan” oleh Mirza Adityaswara
Setelah 1 minggu libur Lebaran, pasar keuangan Indonesia buka kembali pada hari ini, Senin, 5 September. Peredaran uang kertas yang selalu melonjak pada Ramadan akan mulai masuk kembali ke laci Bank Indonesia melalui penyetoran penabung ke sistem perbankan dan penarikan oleh BI lewat penerbitan sertifikat Bank Indonesia dan term deposit.
Menurut berita, ada sekitar Rp61 triliun tambahan uang kartaJ pada masa Ramadan ini, atau sekitar 10% dari jumlah uang beredar dalam arti sempit (Ml) atau 2,4% dari uang beredar dalam arti luas (M2).
Resesi AS dan Eropa
Pada saat kita libur Lebaran, pasar keuangan global masih tetap dengan kebingungannya. Investor di Amerika Serikat bingung apakah ekonominya akan masuk ke resesi yang parah, atau hanya mengalami perlambatan sementara. Investor di Eropa bingung apakah Uni Eropa sanggup mengatasi problem utang pemerintah Spanyol dan Italia.
Secara teori, pasar saham bereaksi terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan laba, sedangkan pasar obligasi bereaksi terhadap ekspektasi inflasi dan rasio utang. Karena kepastian akan kedalaman resesi global masih sulit ditebak, akibatnya trenpasar saham menjadi lebih sulit ditebak dibandingkan tren pasar obligasi.
Hal ini terlihat dari indeks saham global yang turun tajam di pertengahan Agustus kemudian naik pada akhir Agustus dan melemah kembali, sedangkan pasar obligasi di AS dan Jerman trennya satu arah yaitu yield turun karena saat resesi maka inflasi melemah sehingga investor membeli obligasi, membuat yield turun. Obligasi pemerintan AS berjangka 10 tahun viVM-nya sudah turun ke 1.98%.
Pidato Gubernur The Fed Ben Bernanke yang ditunggu-tunggu pada 26 Agustus di Jackson Hole, temyaia tak secara pasti menyebutkan akan melakukan kebijakan pemulihan ekonomi, quantitative easing jilid 3. Bernanke mengatakan bahwa dia optimistis dengan prospek jangka panjang ekonomi AS tapi permasalahan jangka pendek harus diatasi.
Bernanke mengatakan bahwa bank sentral AS masih memiliki opsi kebijakan pemulihan ekonomi yang akan dibahas pada 20-21 September.
Beberapa ekonom AS mengatakan bahwa The Fed bisa kembali membeli surat utang berjangka panjang dan berbagai surat utang korporasi agar suku bunga jangka panjang tetap rendah.
The Fed bisa juga memberikan insentif bunga pada giro wajib minimum. Masalahnya kebijakan moneter ada batasnya karena suku bunga AS sudah rendah yakni 0,25%, sedangkan kebijakan fiskal di AS kecil ruang geraknya karena defisit anggaran dan utang pemerintah AS sudah tinggi.
Data data ekonomi AS sebenarnya masih bercampur antara perkembangan positif dan negatif. Data factory orders Agustus naik 2,4% padahal estimasi awal memperkirakannegatif 1%. Akan tetapi data pengangguran AS pada Agustus masih tinggi, stagnan di level 9,1%.
Presiden Obama akan menyampaikan kebijakan pengurangan pengangguran pada 8 September. The Office of Management Budget memperkirakan angka pengangguran AS baru bisa kembali di bawah 6% pada 2016. Berarti kita harus siap dengan risiko pertumbuhan ekonomi AS yang di bawah normal untuk 4 tahun ke depan.
Bagi stabilitas pasar keuangan yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi ekonomi Eropa. Yield obligasi pemerintah Spanyol dan Italia sedikit demi sedikit mulai naik kembali ke atas 5%. Artinya spread-nya sekitar 3% di atas yield obligasi pemerintah Jerman. Bahkan yield surat utang pemerintah Yunani jangka waktu 2 tahun sudah naik ke level 47%.
Kita harus memantau kesehatanperbankan Eropa. Jika ada bank kelas menengah di Eropa yang jatuh maka itu bisa berdampak berantai ke pasar uang antar bank di pasar global. Untuk mencegah hal tersebut tampaknya Bank Sentral Eropa (ECB) tidak mau gegabah. ECB telah menyiapkan bantuan likuiditas. Bahkan ada desakan agar ECB menurunkan suku bunga.
Regulator perbankan di Eropa juga tampaknya akan menunda penerapan kebijakan penguatan permodalan agar bank bank kecil tidak mengalami masalah. Tapi investor pasar keuangan dapat menghitung sendiri kecukupan permodalan perbankan Eropa sehingga walaupun regulasi ditunda tidak berarti bahwa investor akan memberi kelonggaran.
Pasar keuanqan Indonesia
Asalkan krisis di luar negeri tidak membuat jatuh bank di AS dan
Eropa maka Indonesia tampaknya akan terus mendapat limpahan dana portofolio dari luar negeri karena fundamental makroekonomi lndo-nesia yang relatif baik. Inflasi pada Agustus pada Ramadan yang diperkirakan 0,8% akan membuat inflasi hanya sekitar 4.7% y-o-y. Karena harga minyak dunia sedikit menurun dan tidak ada kenaikan BBM pada tahun ini maka inflasi sampai akhir tahun diperkirakan akan tetap di bawah 5%.
Ada kemungkinan investor asing akan terus memburu SUN jangka waktu 10 tahun karena yield-nya yang 6,8% masih dianggap menarik. Ada kemungkinan yield SUN tersebut akan menuju ke level 6,0% jika aliran modal terus masuk ke Indonesia. Maka dari itu tidak heran jika investor asing sekarang mulai memburu obligasi korporasi swasta. Bahkan surat perbendaraan negaraberjangka 3 bulan saat ini viWJ-nya sudah turun ke 3,8% padahal BI Rate masih bertengger di 6,75%. Jangan heran jika kurs rupiah akan kembali menguat yang berakibat impor akan terus melaju.
Para analis sedang melakukan pemotongan angka estimasi PDB dan laba emiten. Akibatnya valuasi pasar saham regional turun karena investor mengantisipasi resesi global. Tapi tidak seperti Singapura atau Taiwan yang bergantung pada ekspor, Indonesia saat ini memiliki permintaan domestik yang kuat. Pertumbuhan kredit mencapai 25%. Permintaan semen dan otomotif kuat, didukung oleh suku bunga yang relatif rendah.
Walaupun ekonomi Indonesia tidak bergantung pada ekspor tetapi ekonomi luar Jawa ketergantungannya tinggi terhadap naik turunnya harga komoditas kelapa sawit danpertambangan. Maka dari itu pasar saham sedang memperhatikan harga kelapa sawit dan batu bara apakah sudah tidak turun lagi.
Suku bunga di Indonesia sudah cukup rendah. Untuk mencegah resesi, beberapa bank sentral mulai menurunkan suku bunga seperti Brasil dan Turki. Ini positif buat pasar saham. Nanti setelah angka PDB kuartal III/IV di AS, Eropa dan China dipublikasikan, investor asing mungkin akan kembali mengakumulasi saham di negara berkembang yang ekonomi domestiknya kuat seperti Indonesia.
Walau demikian, kita jangan terlena. Indonesia harus tetap prudent. Kebijakan moneter tetap berhati-hati. Hindari utang luar negeri yang tidak perlu, dan hindari impor barang konsumsi yang tidak penting agar neraca barang dan jasa tetap surplus.
























