|
Bisnis Indonesia |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Senin, 03/05/2010 |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
PP 22/2010 dan PP 23/2010 perkuat BUMN tambang |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Oleh Arif Gunawan S.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
PT Timah Tbk tahun lalu menutup kinerja 2009 di atas estimasi analis dan konsensus. Aroma kinerja positif mulai terendus dari fakta kenaikan penjualan secara triwulanan, meski secara tahunan masih melemah. Per Desember 2009, BUMN tambang tersebut meraih pendapatan senilai Rp7,7 triliun, atau melemah 14,8% secara tahunan. Namun secara triwulanan, capaian itu menguat 9%, dari posisi triwulan III/2009 sebesar Rp7,2 triliun. Laba operasional tercatat secara triwulanan juga menguat, yakni sebesar 28%, meski secara tahunan turun 66,7% menjadi Rp688 miliar. Mengikuti itu, laba bersih senilai Rp313 miliar tercatat anjlok 76,6% secara tahunan, dan tumbuh 11% secara triwulanan. Analis PT AAA Securities Herman Koeswanto menilai penurunan kinerja tahunan tersebut didominasi penurunan harga jual rata-rata sebesar 26,5% secara tahunan, menjadi US$13.588/ton dan rugi kurs Rp120 miliar akibat penguatan nilai rupiah. Dari sisi internal, BUMN tersebut dinilai berhasil menunjukkan komitmen efisiensi secara konsisten, yang tercermin dari penurunan rasio biaya operasio-nal terhadap penjualan. Pada 2000, rasio kedua pos itu mencapai 15%, namun pada akhir tahun lalu menjadi hanya 6%. “Penghematan biaya operasional untuk 2009 didominasi biaya umum dan administrasi, di mana mayoritas berasal dari penurunan beban gaji karyawan sebesar 34% menjadi hanya 160 miliar,” paparnya dalam laporan riset per 9 April. Di sisi eksternal, sinyal positif terlihat dari beberapa indikator utama penopang harga timah di pasar logam London (London Metal Exchange/ LME), yakni penurunan stok timah di LME sebesar 9,5% secara tahun berjalan menjadi 24.250 ton, turun 12,8% dari level tertinggi pada akhir Januari 2010. Negara tetangga, yakni Singapura dan China, juga membagikan sentimen positif berupa kenaikan indeks pembelian elektronik yang terus membaik sejak akhir 2009 yang mendongkrak permintaan. Impor logam timah dari China per Februari 2010 melonjak 59,2% secara bulanan mencapai 1.885 ton.
Keterangan: *) proyeksi; EPS: laba per saham; PER: rasio harga saham terhadap laba per saham
Sumber: PT AAA Securities (2010) “Dan perkembangan terakhir yakni tender logam timah dari Korea yang telah memberikan harga premium US$307/ton dari harga CIF kas LME juga menjadi indikator positif terhadap prospek timah pada 2010,” komentar Herman. Dengan mempertimbangkan harga timah di London yang rata-rata bertengger di level U$17.300 per ton pada triwulan I/2010, dia menyesuaikan beberapa asumsi dasar dan menaikkan asumsi harga rata-rata penjualan Timah menjadi US$17.300/ton dan US$17.500 untuk 2010 dan 2011. Hanya berbekal ekspektasi konservatif saja, yakni volume penjualan perseroan flat sebesar 49.000 ton, laba bersih perseroan untuk 2010 dan 2011 berpotensi naik 193% dan 27%, menjadi Rp920 miliar dan Rp1.172 miliar. Herman menilai PP nomor 22 dan 23/2010 yang dikeluarkan pada 1 Februari 2010 menguntungkan perseroan, karena peraturan tersebut menempatkan semua KP BUMN sebagai izin usaha penambangan (IUP) generasi pertama, yang hanya perlu diperbarui 2×10 tahun lagi. “BUMN juga akan memiliki privilege dalam proses lelang ketika IUP mereka kedaluwarsa. Timah dapat mempertahankan IUP mereka selama harga penawarannya setara dengan penawaran tertinggi dari pelelang lain,” ungkapnya. Peraturan itu, lanjutnya, juga memperketat pertambangan skala kecil sehingga mengurangi jumlah penambang swasta secara signifikan. Ini berdampak positif untuk mempertahankan umur cadangan timah. Hak konsesi Berdasarkan data 2008, Timah memiliki hak konsesi tambang dengan total area 522.460 hektare, melalui 114 kuasa pertambangan (KP). Dari angka tersebut, KP di darat mencapai 332.605 hektare, sedangkan KP di lepas pantai (offshore) mencapai 189.855 hektare. Menggarap itu, Timah mengoperasikan 15 unit bucket line dredge (BLD) dan 10 units cutter suction dregde (CSD). Sebanyak 3 unit CSD dibeli dari mitra dan 7 lainnya dibangun PT DAK. Di sisi lain, 3 unit BLD masih diperbaiki. Manajemen Timah menargetkan 15 unit CDS akan beroperasi pada akhir tahun ini, untuk mengoptimalkan produksi lepas pantai. Saat ini, PT DAK telah membangun unit CDS ke-8, yang akan mulai beroperasi pada Juni 2010. Berdasarkan perkembangan itu, AAA mematok target harga baru saham Timah di pasar berkode TINS pada level Rp3.000. Harga itu mengimplikasikan 16,4 kali-12,9 kali PER 2010 dan 2011 dengan potensi kenaikan 30,1%. “Saat ini Timah diperdagangkan pada 12,6 kali-9,9 kali PER 2010-2011. Kami masih berkeyakinan bahwa prospek industri timah masih baik dan lebih stabil terkait dengan belanja konsumsi dan tidak ada substitusinya. Kami pertahankan rekomendasi beli kami,” ujar Herman. Valuasi tersebut tergolong termurah di antara emiten tambang dan belum mencerminkan prospek kinerja di tahun mendatang, terlebih mengingat ada indikasi positif di industri dengan stabilnya harga timah pada kisaran US$18.000-US$18.500/ton. (arif.gunawan@bisnis.co.id) |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
























