|
Bisnis Indonesia |
|
Senin, 01/03/2010 |
|
|
|
|
|
Oleh Chamdan Purwoko
|
|
Konsumsi pupuk di Indonesia-khususnya pupuk kimiawi termasuk pupuk majemuk NPK-dari tahun ke tahun terus meningkat. I Ini tidak lain karena kebutuhan pupuk untuk sektor pangan, perkebunan dan industri terus naik seiring dengan jumlah penduduk, perkembangan industri, ekspansi lahan perkebunan. Tarik-menarik pasokan pupuk terutama urea antara sektor pangan (pertanian), industri dan perkebunan besar (khususnya kelapa sawit) tidak dapat dihindarkan. Cara yang paling relevan untuk ditempuh tentu saja meningkatkan produksi pupuk Namun sayangnya, meningkatkan produksi pupuk cenderung ruwet karena sumber-sumber gas (bahan baku pupuk urea) sudah dikuasai asing sebagai pemilik teknologi, bahkan sejak awal kelahiran Republik ini. Apalagi dengan level harga di pasar ekspor yang lebih tinggi ketimbang di pasar domestik, BP Migas dan produsen gas memang setali tiga uang dalam menyikapi soal gas. Mereka sama-sama lebih suka menjual gas ke luar negeri. Sebagai ilustrasi, harga kontrak ekspor gas ke Singapura mulai 2011 yang baru-baru ini disepakati sebesar US$10-US$11 per juta Brtish thermal units (MMBtu) tentu jauh lebih menggiurkan ketimbang harga yang disanggupi pabrik pupuk di dalam negeri yang hanya US$4,5-US$7 MMBtu. Bahkan untuk kontrak lama, harga gas jauh di bawah itu. Urea merupakan jenis pupuk yang memasok kebutuhan nitrogen (N), unsur penting yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Problem serupa juga terjadi untuk bahan baku pupuk lain, seperti fosfat (P) yang kondisinya lebih parah karena sumber-sumber pasokan utama dikuasai kartel Rusia. Hanya ada beberapa negara di kawasan Maghribi yang dapat memasok fosfat antara lain Aljazair, Maroko dan Yordania. Indonesia tidak memiliki sumber batu mineral ini. Begitu pula untuk bahan baku berupa kalium (K) yang jumlah pemasoknya tidak banyak di dunia. Dengan kondisi pasokan sumber bahan baku pupuk yang tidak dapat dikendalikan dan harganya ditentukan pasar internasional, penghematan penggunaan pupuk kimia tampaknya menjadi salah satu solusi yang baik. Penghematan konsumsi pupuk kimia dianggap penting karena selain dapat mengurangi kebutuhan bahan baku pupuk terutama gas, j juga mencegah kerusakan tanah yang kian parah akibat ‘kebiasaan buruk’ petani dalam pemakaian pupuk kimia secara berlebihan sehingga membuat tanah miskin hara. Supiandi Sabiham, Guru Besar Institut Pertanian Bogor, menyebut lahan seperti itu sebagai tanah sakit, yang jika dibiarkan akan mengalami pelandaian produktivitas, suatu kondisi yang membahayakan program ketahanan pangan nasional. ” Salah satu perlakuan terhadap tanah sakit yang miskin hara ini adalah melakukan pemupukan dengan pupuk organik,” ujarnya pada Seminar Nasional Peranan Pupuk NPK dan Organik dalam Meningkatkan Produksi dan Swasembada Beras Berkelanjutan di IPB, pekan lalu. Berdasarkan hasil penelitian Pusat Tanah dan Agroklimat Bogor, sebagian besar tanah pertanian di Indonesia telah mengalami penurunan kesuburan, yang ditandai oleh rendahnya kandungan C-organik tanah yakni di bawah 2%. Padahal untuk pertumbuhan tanaman yang optimal diperlukan kandungan C-organik tanah sekitar 5%. Peran bahan organik pada sifat fisika dan kimia tanah a.l. mempermudah penetrasi air, penyerapan air, dan perkembangan akar tanaman serta menambah kemampuan tanah menahan unsur-unsur hara. Lebih dari itu, pengaruh bahan organik terhadap sifat biologi tanah dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah karena bahan organik menjadi sumber energi bagi jasad renik. “Mikroba tanah sangat membantu dalam proses mineralisasi bahan organik sehingga unsur hara makro dan mikro menjadi tersedia bagi tanaman,” ujar Suyamto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Melihat begitu pentingnya peran pupuk organik pada lahan pertanian, sejak 2 tahun lalu, Pemerintah memberikan subsidi pupuk organik untuk mendorong penggunaan pupuk ini. PT Petrokimia Gresik sebagai salah satu BUMN yang juga mengembangkan pupuk organik dengan merek Petroganik menargetkan pada tahun ini memiliki 300 pabrik. Target jumlah sebanyak ini bukan tidak mungkin dicapai mengingat pabrik ini dikembangkan dengan sistem lisensi (waralaba) produksi yang melibatkan pengusaha di daerah. Kalkulasi Berdasarkan kalkulasi, penggunaan pupuk organik dapat memberikan keuntungan ganda baik bagi petani di samping penghematan devisa untuk impor bahan baku. Keuntungan bagi petani adalah kesuburan lahan meningkat, produktivitas tanaman padi naik mencapai 1 ton per hektare, dan penggunaan pupuk kimiawi turun 10 %, dengan hasil tidak beda nyata dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimiawi 100 %. Dalam uji coba lahan menggunaan pupuk organik-pupuk yang dipakai merek Petroganik-dengan dosis 500 kg per ha ternyata dapat meningkatkan tambahan pendapatan petani padi sebesar Rp2.332.500 per hektare. I ini berarti, dengan adanya penghematan konsumsi pupuk kimiawi 10% (550.000 ton per tahun), nilai subsidi pupuk yang dapat dihemat mencapai Rp1,56 triliun. Angka ini diperoleh dengan asumsi luas areal tanaman padi sekitar 11 juta hektare sesuai dengan data Kementerian Pertanian. Penghematan konsumsi sebanyak 550.000 ton pupuk subsidi tadi, jika digunakan untuk melakukan pemupukan dapat menghasilkan 3,3 juta ton beras senilai Rp18,549 triliun. Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Arifin Tasrif mengungkapkan efisiensi dalam konsumsi pupuk kimia menjadi hal penting pada masa mendatang mengingat harga bahan baku gas, fosfat dan kalium terus berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat. Sebagai ilustrasi, katanya, pada 2008 ketika harga minyak mentah dunia melambung hingga US$140 per barel, harga gas (bahan baku urea) di pasar internasional meroket hingga lima kali lipat. Begitu pun dengan harga pupuk TSP (fosfat) dan pupuk KCL (kalium), keduanya melambung hingga US$1.000 per ton. Padahal, pada saat yang sama nilai tukar petani relatif tidak berubah. ” Dalam kondisi di mana kita tidak menguasai sumber bahan baku pupuk dan harganya kian mahal maka penghematan penggunaan pupuk lewat penggunaan pupuk organik menjadi langkah penting,” ujarnya. (chamdan@bisnis.co.id)
|
























