Meraba Likuiditas 2010

Republika

Senin, 11 Januari 2010

 

Tahun 2010 akan diwarnai banjir dolar AS dalam jumlah sangat besar, mencapai 2,4 triliun dolar AS ke pasar internasional.

Oleh Rahmad Budi Harto

Pemerintah sejak awal hari sudah meneriakkan, butuh investasi Rp 2.100 triliun per tahun agar Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen dan dalam tahun kelima bisa menjadi 7 persen. Dari mana dana itu?

Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Ra ja sa, menyatakan pemerintah hanya mampu me nye diakan 15-17 persennya saja atau sekitar Rp 300-350 triliun. Sementara Direktur Utama Bank Mandiri, Agus Martowardojo, menyatakan kemampuan perbankan nasional hanya mampu menyediakan 45 persennya atau sekitar Rp 950 triliun.

Sementara kekuatan pasar modal Indonesia sen diri dalam membiayai sektor riil pada tahun 2009 la lu tercatat initial public offering (IPO), rights issue, dan obligasi yang terlaksana berhasil menggalang dana sebesar Rp 38,86 triliun. Terdiri atas Rp 3,8 triliun IPO, Rp 8,7 triliun rights issue dan Rp 26,36 triliun obligasi korporasi.

Ini hanya sekitar 1,85 persen dari total kebutuhan investasi Indonesia. Maka, sisanya sekitar 38 persen atau Rp 800 triliun mau tak mau harus didapatkan dari dana investasi swasta nasional, asing, atau bahkan pinjaman luar negeri. Maka, dengan mengetahui prospek ekonomi global 2010, kita bisa melihat sejauh mana Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pendanaan pembangunan.

Mengawali 2010, ekonomi Indonesia sebenarnya diwarnai suasana campur aduk. Para investor pasar modal bersorak sorai karena indeks saham selama 2009 naik lebih dari 86 persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sejak September 2009 sudah mulai bergerak konsisten di bawah Rp 10.000 per dolar AS terus menunjukkan penguatan, bahkan sering di bawah Rp 9.500, ambang yang dikhawatirkan pengusaha bakal melemahkan ekspor.

Namun di sisi lain, kredit perbankan nasional hanya tumbuh 10,5 persen, jauh di bawah pertumbuhan kredit tahun 2008 yang pernah mencapai 22 persen. Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuh an kredit 2010 bakal pulih ke kisaran 15-20 persen. Ini sebaiknya menjadi target minimal untuk mampu menyokong pertumbuhan ekonomi 6 persen yang ditargetkan pemerintah itu. Masalah utama adalah tingkat suku bunga pinjaman yang belum juga turun. Padahal suku bunga acuan BI Rate sudah bertahan selama enam bulan di level 6,5 persen. Sampai Oktober 2009, ketika BI Rate sudah bertahan untuk bulan ketiga, suku bunga kredit investasi masih dua kali lipat BI Rate.

BI memandang, idealnya selisih BI Rate dengan suku bunga deposito hanya satu persen saja. Bunga kredit memang sudah mulai turun dan harapannya akan sepadan dengan bunga dana mahal (deposito), paling tidak 100 basis poin, kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman D Hadad. Kenyataannya, perbankan Indonesia masih memelihara margin bunga yang tinggi, menjadikannya salah satu industri keuangan paling menguntungkan di Asia. Sampai akhir 2009 masih ada Rp 250 triliun pinjaman yang telah disetujui perbankan namun belum juga ditarik oleh peng usaha. Satu hal menarik.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka per dagangan Bursa Efek Indonesia 2010, mengingat kan bahwa kondisi dalam negeri harus kondusif agar mampu menarik investasi asing. Tidak mungkin jika kondisi pemerintahan kacau-balau. politik gunjang-ganjing, infrastruktur yang tak baik dan perizinan berbelit-belit iklim in vestasi yang baik terealisasi, kata Presiden. Ini sinyal bahwa kasus politik besar seperti Century sedikit banyak akan memengaruhi nyali investor.

Likuiditas luar negeri
Dunia sedang berkonsolidasi di 2009. Namun, Cina terus-menerus menggenjot kredit perbankannya dengan bunga rendah untuk menjaga agar investasi dan konsumsi tetap solid. Untuk 2010 ini, semua pihak sedang optimistis perekonomian global akan mulai pulih. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, tahun 2010 akan diwarnai banjir dolar AS dalam jumlah sangat besar, mencapai 2,4 triliun dolar AS ke pasar internasional. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, mengguyurkan likuiditas untuk mendukung kebijakan stimulus dalam jumlah besar oleh pemerintahan Barack Obama.

Itu akan seperti air bah karena berbeda dengan tahun 2008 yang justru terjadi kekeringan likuiditas, tahun depan justru akan terjadi kelebih an. Suku bunga akan rendah, investasi akan mudah, tetapi saya ingatkan ini tidak akan selamanya, kata Sri Mulyani. Sebaliknya, berbagai negara diperkirakan akan menerapkan exit strategy dari krisis global dengan lebih memperkuat stimulus ekonomi.

Itu artinya banyak negara akan memperlebar defisit anggaran dengan penerbitan surat utang. Banjir likuiditas akan diimbangi dengan tingginya permintaan terhadap dolar AS. Masalahnya, apakah ini akan menyebabkan nilai dolar AS menguat atau justru melemah? Jumhur analis tampaknya sepakat bahwa penguatan rupiah masih berpeluang terjadi setidaknya sampai kuartal pertama 2010.

Rupiah akan mudah menembus level Rp 9.000, namun tetap akan dijaga oleh Bank Indonesia agar tetap pada tingkat yang menguntungkan ekonomi Indonesia, terutama ekspor. Namun, skenario sebaliknya juga bisa terjadi. Dengan belum pulihnya ekonomi Amerika Serikat, maka kemungkinan guyuran stimulus hanya mampir di berbagai lembaga keuangan saja. Ini berarti pasokan likuiditas dolar AS masih lebih kecil dibandingkan permintaan dolar AS untuk pembiayaan stimulus. Artinya dolar AS justru akan mengalami penguatan.

Jika ini yang terjadi, semua hitungan awal harus diubah kembali. Lagipula, selama resesi, kredit mengalami kontraksi sehingga guyuran stimulus berbagai negara itu bisa saja sebanding dengan kontraksi kredit. Selain itu, banyak analis yang memban dingkan krisis global kali ini dengan Depresi Hebat 1929-1930. Itu berarti pemulihan bisa saja berjalan lebih lama dibandingkan sekadar kurvaversi Nouriel Rubini, ekonom AS yang mera malkan krisis ini dua tahun sebelumnya.

Mewaspadai yuan
Tahun 2010 yang diwarnai dengan perdagangan bebas antara Cina dengan ASEAN. Cina yang telah menjadi negara eksportir terbesar dunia saat ini sedang mengalami booming kredit. Stimulus ekonomi sebesar 586 miliar dolar AS akan mem buat ekonomi Cina lebih panas. Produk industri tentu meningkat dan harus segera dicarikan pasar untuk menyerapnya.

Salah satu cara paling cepat menembus pasar ekspor adalah memperlemah mata uang sendiri. Terdepresiasinya mata uang yuan akibat kebijakan sepihak dapat meng untungkan negeri Tirai Bambu itu dalam perdagangan bebas Nilai tukar yuan yang dipatok secara tidak langsung dengan dolar AS membuatnya mengalami depresiasi bersama dolar AS. Apakah kita juga harus menjatuhkan nilai tukar rupiah agar selamat?

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *