2010, Penguatan rupiah & IHSG

Bisnis Indonesia

Senin, 11/01/2010

CATATAN AWAL PEKAN

oleh : Fauzi Ichsan
Senior Vice President,
Standard Chartered Bank

Bagi pasar finansial Indonesia, tahun 2010 diawali dengan optimisme. Setelah rupiah menguat 16,1% terhadap dolar AS pada 2009 (penguatan mata uang terpesat di Asia), dalam minggu pertama 2010 rupiah terus menguat 1,9% ke 9.215 per dolar AS (penguatan terpesat kedua di Asia setelah won Korea).

Penguatan mata uang Asia (terutama won Korea, rupiah, dan rupee India) dipicu oleh hot money asing yang mengalir ke pasar modal Asia. Setelah kembali dari liburan akhir tahun, para investor dan spekulator di New York, London, Singapura, Hong Kong dan Tokyo harus mulai menjalankan strategi investasi 2010 mereka.

Mereka cenderung memperbesar alokasi investasi ke negara yang pemulihan ekonominya paling pesat pasca krisis ekonomi global. Logikanya, di negara yang pemulihan ekonominya pesat, laba perusahaan dan perbankan juga akan tumbuh pesat sehingga harga saham naik pesat, yang akan memicu penguatan bursa saham di negara tersebut.

Selain itu, di negara yang pertumbuhan ekonominya meningkat, keuangan pemerintahnya juga akan membaik (karena penerimaan pajaknya naik), sehingga risiko gagal bayar utang pemerintahnya akan turun - keadaan yang menarik bagi investor surat utang negara (SUN) apalagi jika imbal hasilnya tinggi (seperti di Indonesia).

Di kalangan negara G-20, negara yang pemulihan ekonominya paling pesat adalah China (yang pertumbuhan ekonominya diperkirakan mencapai 10% pada 2010), India (7,5%), Indonesia (5,5%) dan Korea Selatan (4,8%).

Dihitung dalam dolar AS, setelah menguat 123,4% pada 2009 (penguatan terpesat di Asia), indeks harga saham gabungan (IHSG) Indonesia terus menguat 6,1% ke level 2.614, kinerja yang mempertahankan ranking pertama Indonesia di Asia.

Modal asing tidak saja mengalir ke pasar saham, tetapi juga ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan SUN, walaupun sempat ada wacana pembatasan investasi asing di SBI dan adanya pengetatan keringanan pajak atas imbal hasil obligasi bagi investor asing, yang selama ini dinikmati berdasarkan double taxation treaty.

Alhasil, setelah turun dari 13,4% pada Maret 2009 ke 9% pada akhir 2009, imbal hasil SUN dengan tenor 5 tahun turun terus ke 7,9%, level yang lebih rendah dibandingkan dengan sebelum krisis finansial global. Persepsi risiko investasi di Indonesia pun ikut turun tajam (membaik).

Premi risiko (credit default swap atau CDS) untuk menjamin SUN Indonesia dari risiko gagal bayar, yang pada November 2008 memuncak ke 12.5% (dari nilai SUN yang dijamin), telah turun ke 1,9% pada akhir 2009.

Bagi saya pribadi, kerugian investasi saham saya di Eropa Timur, Jepang, dan Asia sejak krisis global pada tahun 2008, telah jauh tertutup oleh keuntungan investasi saham di Indonesia (yang mengingatkan kita pada pepatah lama: “berinvestasilah di tempat yang kita kenal dengan baik”).

Risiko

Penguatan IHSG dan rupiah bukan tanpa risiko. Risiko utama tetap global: risiko tersendatnya pemulihan ekonomi dunia oleh lambatnya pemulihan ekonomi Amerika Serikat (yang menggerakan 20% dari ekonomi dunia). Ekonomi dunia, yang kontraksi 1,9% pada 2009, memang diperkirakan tumbuh 2,7% pada tahun ini, tapi dengan asumsi ekonomi AS (yang kontraksi 2,4% di tahun 2009) akan tumbuh 2,3% di tahun 2010.

Mengingat parahnya masalah ekonomi AS (pada Desember 2009 saja, 85.000 orang kehilangan pekerjaannya), pemulihan ekonomi AS pasti tidak mulus. Jika laju pertumbuhan ekonomi AS melambat lagi, dipastikan bursa saham Wall Street akan anjlok. Mengingat kuatnya interaksi bursa saham global, bursa saham Asia (termasuk Indonesia) pun akan ikut turun, apa lagi jika ada kekhawatiran terganggunya pemulihan ekonomi global (karena impor AS dari Amerika Selatan, Eropa, dan Asia terpuruk).

Anjloknya bursa saham Asia akan memicu pelemahan kembali mata uang Asia, karena investor asing akan menjual saham mereka dan membeli US dolar (yang masih berperan sebagai mata uang global terpenting).

Walaupun risiko krisis finansial global jilid dua sangat kecil (mengingat komitmen pemerintah dan bank sentral G20 untuk menerapkan kebijakan ekonomi yang agresif), tetapi penguatan bursa saham global akan fluktuatif pada tahun 2010.

Risiko kedua bersifat lokal dan politis. Sebagai negara demokratis terbesar ketiga di dunia (setelah India dan AS), Indonesia dianggap sebagai salah satu negara yang politiknya paling stabil di Asia (dibanding Thailand dan Filipina misalnya), apa lagi setelah pemilu yang aman dalam 2009.

Namun kasus Bank Century, jika berkembang menjadi bola liar yang mengakibatkan pengunduran diri menteri keuangan dan wakil presiden (mantan gubernur BI). Untuk sementara, investor internasional masih melihat kasus bank Century sebagai kasus lokal yang hanya menyerap perhatian masyarakat elite Indonesia.

Prospek

Pada 2010 rupiah dan IHSG kemungkinan akan menguat terus karena tiga faktor. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terus naik. Laba perusahaan dan perbankan yang tercatat di bursa saham pun banyak yang membaik pada 2009 dan diperkirakan akan terus menguat pada 2010.

Indikator sektor riil, seperti penjualan mobil, motor dan konsumsi semen juga menunjukan perbaikan yang mengejutkan investor. Bagi banyak investor internasional di Asia, setelah China dan India, tujuan investasi yang paling logis adalah Indonesia. “Cerita optimisme Indonesia” memiliki tiga pilar yang menarik: pasar domestik terbesar di Asean; potensi sumber daya alam (gas, batu bara) dan produksi komoditas (kelapa sawit, karet) yang besar; dan prospek pembangunan infrastruktur 5-10 tahun ke depan.

Kedua, walaupun telah naik tajam, bursa saham Indonesia relatif murah dibandingkan dengan beberapa bursa saham global lainnya. Tingkat rata-rata rasio price-to-earning (P/E), atau harga saham dibagi laba per saham (yang menunjukkan mahal-murahnya saham perusahaan), di bursa Indonesia (berdasarkan estimasi laba tahun 2010) sekitar 13,7.

Sementara itu, rasio PE bursa saham India adalah 21, China 20,5 dan Brasil 14,3. Memang beberapa bursa saham lebih murah dari Indonesia, seperti Rusia (rasio PEnya 12,5) dan Korea Selatan (10,4).

Namun mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih pesat dari negara yang bursa sahamnya lebih murah, hal ini masih wajar - apalagi dengan penguatan kurs rupiah, sehingga keuntungan investor asing (yang mata uang dasarnya US dolar) dari investasi saham Indonesia semakin tinggi.

Ketiga, prospek tetap rendahnya suku bunga global. Karena pemulihan ekonomi global rentan, bank sentral dunia diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga yang rendah. Suku bunga US dolar (Federal Reserve Funds Target Rate - FFTR) diperkirakan dipertahankan di level 0,25% sampai akhir 2010. Suku bunga Euro diperkirakan juga tetap di 1% dan Yen di 0,1% sampai akhir 2010.

Sementara itu, di Indonesia suku bunga BI rate diperkirakan hanya naik dari 6,5% ke 7,5%, mengingat inflasi diperkirakan naik dari 2,8% ke 5,5% pada tahun 2010. Akibatnya, dana menganggur investor yang diparkir di pasar uang internasional mendapatkan bunga yang rendah. Dengan berakhirnya krisis finansial global, para investor ini terpaksa harus merealokasi dana mereka ke pasar saham, terutama di negara yang ekonominya tumbuh pesat, seperti Indonesia.

Aliran modal asing ke pasar finansial Indonesia melibatkan penjualan dolar dan pembelian rupiah untuk membeli saham, SUN dan SBI. Mengingat selisih suku bunga US dolar dan rupiah yang tinggi (sekitar 6,5-7,5%) dan prospek pertumbuhan laba korporasi Indonesia sebesar 15-20% pada tahun 2010, ditambah minat investor global untuk mengambil risiko yang lebih tinggi, prospek rupiah dan IHSG sangat positif.

Berdasarkan survei Bloomberg (dengan 58 bank dan perusahaan sekuritas global sebagai responden), Standard Chartered adalah bank yang paling akurat (ranking pertama) dalam memprediksi penguatan rupiah pada 2009. Untuk 2010, kami memperkirakan rupiah terus menguat ke arah 8.900 per dolar dan IHSG tembus 3.000 sebelum akhir 2010. It’s never too late to buy Indonesian assets!


Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *