CATATAN AWAL PEKAN

Bisnis Indonesia

Senin, 12/10/2009

 

oleh Muhammad Chatib Basri
Dosen FEUI dan Research Associate di LPEM-FEUI

Dalam sebuah santap siang terbatas di Boston, Amerika Serikat, beberapa minggu lalu Jeffrey Frankel, guru besar ekonomi dari Harvard University, mengajukan satu pertanyaan penting kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono: mengapa Indonesia relatif lebih mampu menghadapi krisis global saat ini dibandingkan dengan krisis keuangan 1997?

Presiden SBY kemudian menjelaskan beberapa faktor penting: Pertama, asal dari krisis. Krisis keuangan 1997 adalah krisis yang bersifat home ground but not home alone. Dia memiliki akar krisis dalam ekonomi domestik, tetapi Indonesia tidak sendiri. Harus diakui ada kelemahan mendasar dalam perekonomian kita, sehingga ketika dampak tular (contagious effect) terjadi dari Thailand, Indonesia masuk ke dalam pusaran krisis yang luar biasa beratnya. Dalam krisis keuangan 2008, asal dari krisis sepenuhnya bersumber dipicu dari luar-tepatnya dari kasus subprime di Amerika Serikat.

Kedua, kondisi kesehatan sektor keuangan. Reformasi yang dilakukan dalam 10 tahun terakhir telah menghasilkan institusi perbankan dan keuangan yang lebih kuat -walau masih jauh dari sempurna. Kehati-hatian perbankan jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelum krisis. Contohnya, NPL (non-performing loans) saat ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan 1998. Selain itu pinjaman yang jor-joran pada 1997 juga akan membuat risiko krisis menjadi besar.

Sebaliknya saat ini yang terjadi justru masih terbatasnya intermediasi perbankan (tercermin dari rendahnya LDR). Trauma krisis 1997 dan masih tingginya risiko di sektor riil-akibat informasi yang tidak simetris antara perbankan dan peminjam -membuat perbankan harus memasukkan biaya risiko dalam tingkat bunga pinjamannya. Akibatnya aliran kredit praktis rendah, walaupun bunga sudah diturunkan.

Ketiga, respons kebijakan yang berbeda. Respons Bank Indonesia pada 1997 dengan menaikkan tingkat bunga secara tajam untuk menahan arus modal keluar -di dalam situasi panik-bisa berakibat kontraproduktif. Kenaikan tingkat bunga yang tajam akan membuat perusahaan bangkrut dan akhirnya risiko kredit macet meledak.

Pinjaman jor-joran yang kemudian macet, berakibat kepada memburuknya situasi perbankan, yang mendorong arus modal keluar. Sebaliknya yang dilakukan oleh Bank Indonesia saat ini justru menjamin kecukupan likuiditas dan menurunkan tingkat bunga.

Hal yang amat penting adalah berbagai upaya pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan terhadap sektor keuangan, termasuk dengan menaikkan batas jaminan deposito dan berbagai langkah menghindari risiko sistemik memiliki dampak positif untuk menjaga kepercayaan.

Di sisi lain, berbeda dengan 10 tahun lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal. Benar bahwa tingkat absorbsinya masih terbatas, tetapi pemotongan tarif pajak baik untuk individu maupun perusahaan yang mulai berlaku Januari 2008, membuat fiskal stimulus menjadi efektif.

Saya termasuk yang percaya, bahwa tax cut punya pengaruh positif bagi pertumbuhan ekonomi. Alasannya: kecenderungan konsumsi di Indonesia relatif tinggi. Selain itu struktur demografi dengan penduduk muda lebih membuat tax cut efektif. Hal lain adalah, keterbatasan kredit yang membuat orang cenderung mengonsumsi jika mendapat tambahan pendapatan, karena penggunaan kartu kredit masih amat terbatas. Dalam kondisi di mana absorbsi pengeluaran pemerintah rendah, tax cut akan lebih efektif. Tengok saja: konsumsi tumbuh di atas 5% pada tahun ini.

Keseimbangan

Namun, bukankah semua negara melakukan kebijakan moneter yang luwes dan stimulus fiskal? Mengapa ekonomi Indonesia relatif lebih baik? Krisis ekonomi yang baru terjadi mengajarkan kita tentang pentingnya tetap menjaga keseimbangan antara pasar domestik dan eksternal. Lepas dari soal bagus atau buruk, porsi ekspor Indonesia terhadap PDB relatif kecil dibandingkan dengan Singapura, Malaysia atau Thailand.

Sehingga ketika ekspor mandek, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia terbatas. Selain itu, untung atau sialnya, Indonesia terlambat untuk terlibat di dalam jaringan produksi (production net-work) di Asia. Sehingga ketika ekonomi dunia melemah dan permintaan barang jadi dari negara maju lumpuh, negara di Asia yang terlibat di dalam jaringan produksi seketika merasakan dampaknya dengan sangat signifikan, contohnya Singapura dan Korsel.

Kalau begitu mengapa kita tidak berorientasi kepada pasar domestik saja dan menutup diri saja? Di sini kita harus amat hati-hati menyimpulkan. Studi Basri dan Rahardja (2009) menunjukkan dorongan ekspor terhadap pertumbuhan PDB di Indonesia relatif besar dibandingkan dengan permintaan domestik, tetapi permintaan domestik lebih stabil.

Selain itu, bukankah ekspor telah membantu kita mendorong pertumbuhan didalam tiga dekade ini? Dalam pertemuan ulang tahun ke-75 Japanese Economic Association, di Tokyo Jumat pekan lalu, Prof Fukunari Kimura-yang merupakan salah satu ekonom terdepan dalam production net-work-juga mendukung argumen ini.

Benar bahwa ketika ekonomi global melemah, negara yang terlibat dalam production net-work akan terpukul, tetapi jangan lupa ketika ekonomi dunia mulai membaik, negara-negara tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan Indonesia. Singapura contohnya tumbuh 20% dalam triwulan satu ke triwulan dua 2009, sedangkan Indonesia hanya tumbuh 2,3%. Artinya persoalannya bukanlah menutup diri dan menjadi proteksionis.

Logistik & infrastruktur

Bagaimana caranya? Perbaiki kapasitas supply yang dapat mendukung ekonomi domestik sekaligus ekspor. Caranya: perbaiki sistem logistik. Indonesia adalah negara kepulauan dimana biaya transaksi begitu besar akibat sistem logistik dan distribusi yang buruk. Perbedaan harga komoditas seperti gula, tepung terigu dan semen di daerah Jawa dengan daerah Indonesia Timur (Nabire) berbeda lebih dari tiga kali lipat.

Perbedaan harga yang sangat jauh ini terjadi karena sistem distribusi yang buruk, akibat biaya logistik yang tinggi. Ironisnya, wilayah yang jauh dari Jakarta yang relatif pendapatan perkapitanya lebih rendah saat ini harus menanggung biaya hidup yang lebih tinggi karena harga barang-barang kebutuhan pokok yang jauh lebih tinggi.

Dengan sistem logistik yang baik, biaya transaksi dapat dikurangi, dan pasar domestik menjadi lebih efisien, disisi lain ia juga membuat produk ekspor kita menjadi lebih kompetitif. Prof. Masahisa Fujita-yang bersama pemenang nobel ekonomi Paul Krugman dan Anthony Vennables menulis risalah klasik dalam ekonomi geografi yaitu The Spatial Economy- dalam pertemuan di Tokyo kemarin juga mengingatkan pentingnya masalah biaya transportasi. Sistem logistik yang baik membutuhkan infrastruktur yang baik: jalan, pelabuhan dan sistem pelayaran antarpulau, jembatan atau terowongan.

Di sini saya teringat diskusi terbatas Presiden SBY dengan Prof. Dani Rodrik dari Harvard University di Boston beberapa minggu lalu soal ekonomi pembangunan. Rodrik mengingatkan pentingnya strategi Pick Your Battles atau pentingnya memilih isu spesifik dan penting yang perlu menjadi fokus.

Dalam istilah Rodrik: focus on most binding constraints. Tidak ada preskripsi one size fits all. Rodrik mengatakan kepada saya: tidak ada gunanya memberikan advis kepada pemerintah dengan daftar panjang mengenai reformasi yang harus dilakukan.

Lebih baik fokus kepada most binding constraints. Artinya reformasi harus difokuskan kepada sesuatu isu yang akan membawa dampak kepada peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang paling besar atau marginal welfare benefit of reform.

Saya kira Rodrik benar. Di sini pentingnya diagnosa pertumbuhan ekonomi atau growth diagnostic. Strategi reformasi dengan cara ” do as much as you can. As best you can” sebenarnya juga tidak menolong, karena belum tentu semua economic reform cocok untuk sebuah negara. Contohnya banyak negara di Amerika Latin telah menjalankan semua nasihat reformasi ekonomi, toh pertumbuhan tak naik secara signifikan. Yang paling penting adalah fokus untuk mendorong growth with equity.

Di Indonesia, karena return dari investasi untuk aktivitas ekonomi rendah akibat infrastruktur yang buruk, hambatan geografis dan masalah iklim investasi, maka rasanya most binding constraints kita adalah infrastruktur. Dengan menempatkan prioritas infrastruktur dan soft infrastructure seperti perbaikan iklim investasi, maka kendala itu dapat diatasi.

Selain itu karena target ke depan adalah growth with equity, upaya perbaikan sistem kesejahteraan dengan pembangunan infrastruktur sosial seperti program untuk orang miskin menjadi penting. Dan satu yang terakhir: dunia yang kita huni saat ini, adalah dunia yang penuh dengan inovasi dan teknologi.

Hanya bertahan dalam produk tradisional bukanlah pilihan bijak, di sini peran dari inovasi dan teknologi menjadi amat krusial. Prioritas ini saya kira bisa membawa kita kepada kinerja ekonomi yang lebih baik. Memang yang paling penting: pick your battles dan fokus kepada most binding constraints.

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *