Bisnis Indonesia
Senin, 31/08/2009 00:00 WIB
oleh : Oleh Budi Susanto
Head of Debt Research PT Danareksa Sekuritas
Suku bunga kredit perbankan yang sulit turun akhir-akhir ini marak diperbincangkan. Salah satu penyebab yang ditengarai adalah persaingan perbankan dengan pasar obligasi. Haruskah terjadi persaingan di antara keduanya?
Ketika Bank Indonesia memotong suku bunga acuan BI Rate dengan agresif muncul harapan besar dari banyak pihak agar suku bunga kredit perbankan turun dengan cepat juga. Namun, kenyataannya suku bunga kredit terkesan malas untuk mengikuti tren penurunan suku bunga yang sedang terjadi bahkan hampir di seluruh dunia.
Berbagai analisis dikemukakan oleh para pakar dan pengamat. Di antaranya mengatakan pasar obligasi mengganggu pergerakan penurunan suku bunga kredit.
Imbal hasil (yield) obligasi, terutama obligasi pemerintah mendorong perpindahan dana dari perbankan ke pasar obligasi untuk mencari imbal hasil lebih tinggi.
Untuk menahan arus perpindahan dana keluar perbankan terpaksa menetapkan suku bunga simpanan pada level yang tinggi untuk bersaing dengan imbal hasil yang ditawarkan oleh obligasi.
Jika dilihat secara parsial kasus per kasus sangat mungkin mendapatkan kesimpulan seperti itu.
Namun, kita mungkin perlu melihat gambaran dengan menggunakan sudut pandang yang lebih menyeluruh atas hubungan suku bunga kredit dengan pasar obligasi.
Pertama, secara historis kita melihat hubungan antara suku bunga kredit dan imbal hasil obligasi tidak selalu seiring-seirama. Misalnya pada September 2005 ketika imbal hasil obligasi turun tajam, suku bunga kredit masih naik sampai dengan Maret 2006.
Sebaliknya pada Mei 2007 ketika imbal hasil obligasi mengalami kenaikan tajam, suku bunga kredit justru masih turun sampai Mei tahun berikutnya.
Kalau begitu, terhadap lambatnya penurunan suku bunga kredit pada saat ini pun rasanya tidak tepat menyalahkan imbal hasil obligasi. Imbal hasil telah turun tajam akhir-akhir ini.
Fakta kedua karena penerbit adalah institusi domestik, dana itu tidak akan keluar dari sistem moneter. Saat penerbit obligasi menyimpan atau menggunakan dana yang diperoleh seketika itu pula dana kembali masuk ke sistem perbankan.
Jadi kekeringan dana apabila ada keterlambatan aliran dana yang ditarik oleh obligasi pemerintah merupakan dampak dari keterlambatan pembelanjaan anggaran.
Fakta ketiga adalah perbankan merupakan pemegang obligasi pemerintah terbesar. Berdasarkan data kepemilikan obligasi pemerintah per Agustus 2009 perbankan adalah pemegang terbesar dengan komposisi 49,3% dari total obligasi pemerintah yang beredar. Sementara investor asing dan asuransi memegang sekitar 16,4% dan 11,4%. Sisanya sekitar 22,9% dimiliki oleh industri reksa dana, dana pensiun, BI dan institusi lainnya.
Sebagai pemegang obligasi pemerintah terbesar, pengaruh perbankan pada harga dan imbal hasil obligasi di pasar sekunder seharusnya signifikan. Jika perbankan domestik dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah, perbankan dapat menjaga harmonisasi antara bunga simpanan dan suku bunga kredit dengan imbal hasil obligasi di pasar sekunder.
Penghambat penurunan
Seperti telah banyak dibahas sebelumnya, faktor utama penghambat penurunan suku bunga kredit adalah masih tingginya biaya dana perbankan dan persepsi tingginya risiko bisnis.
Persaingan antarbank memperebutkan dana menyebabkan bunga deposito lambat turun sehingga bunga kredit juga sulit turun dengan cepat. Apabila perbankan sampai menawarkan bunga simpanan yang tinggi untuk menarik dana, ini artinya kemungkinan likuiditas dana yang ada dalam sistem perbankan tidak mencukupi. Jika likuiditas dana cukup dan terdistribusi dengan baik, tentu kompetisi dengan pengorbanan kenaikan biaya dana bank tidak akan terjadi.
Faktor kedua yang menyebabkan lambatnya penurunan bunga kredit adalah persepsi risiko bisnis yang masih tinggi oleh pelaku industri perbankan. Risiko bisnis yang tinggi berkorelasi positif terhadap potensi kenaikan jumlah kredit bermasalah (non performing loan-NPL). Sebagai langkah mengantisipasi kenaikan NPL, bank akan menjaga margin pendapatan bunga di atas beban dana (net interest margin-NIM) tetap tebal agar dapat menyerap kenaikan provisi untuk NPL.
Ini adalah reaksi defensif alami untuk mempertahankan kinerja keuangan bank ketika risiko bisnis naik.
Kapan turun?
Bunga kredit diperkirakan dapat turun dalam beberapa bulan ke depan apabila kesepakatan bank yang telah dibuat untuk menurunkan bunga deposito didukung oleh kebijakan likuiditas yang kondusif dan didukung pula oleh penurunan risiko bisnis di Indonesia.
Bunga kredit dapat turun tanpa terlalu terganggu oleh dinamika yang terjadi di pasar obligasi karena pada dasarnya perbankan sebagai pemain di pasar uang dan pasar obligasi di pasar modal dapat berjalan beriringan di segmen masing-masing. Interaksi antara perbankan dan pasar obligasi justru seharusnya dapat saling menguntungkan dan bukan untuk saling bersaing dengan keras.
Likuiditas dana yang sesuai dengan kebutuhan tetapi tidak berlebihan, dipercaya akan membuat pengaruh kebijakan BI lebih efektif. Penetapan acuan suku bunga oleh bank sentral tidak akan maksimal tanpa disertai dengan pengaturan likuiditas dana yang baik.
Di sisi lain apabila risiko dunia bisnis tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah dan oleh kita semua, bank-bank akan selalu menjaga NIM tetap tinggi yang berdampak pada tingginya bunga kredit. Kalau begitu, pemerintah, Bank Indonesia dan kita semua masing-masing punya tugas untuk membantu penurunan suku bunga kredit ke level yang kompetitif.
bisnis.com
























