| Bisnis Indonesia, Edisi: 31-JUL-2009 | |
| Dunia itu datar. Thomas L. Friedman, pemenang Pulitzer for international Reporting pada 1982 sekaligus kolumnis di New York Times, berasumsi itu ketika memaparkan 10 peristiwa pembawa dunia menjadi desa global dengan jejaring ekonomi dan politik yang saling terkait.Namun, badai krisis finansial sepertinya membuat asumsi itu untuk sementara dilupakan, demi melihat fenomena ‘resistensi’ perusahaan-perusahaan lokal yang membuat wajah ekonomi dunia tidak seragam.
Realitas tersebut sedikit-banyak tecermin pada kinerja keuangan sebagian perusahaan Indonesia, yang menunjukkan pola berbalik 180 derajat dari emiten korporasi di negara sumber krisis Amerika Serikat (AS). Laporan keuangan emiten unggulan pada triwulan II/2009 menunjukkan sektor properti dan konstruksi sejauh ini menunjukkan kinerja kinclong, meninggalkan sektor lain seperti telekomunikasi, konsumsi, dan perkebunan. Berdasarkan data Bisnis, empat perusahaan penyumbang 20% bobot sektor konstruksi di bursa membukukan lonjakan laba rata-rata 75% yang dimotori oleh perusahaan milik negara PT Adhi Karya Tbk. PT Jasa Marga Tbk, yang terkait dengan bisnis jalan tol, juga mencatat pertumbuhan kinerja positif, meski hanya 8,5%. Sektor lain yang sementara masih mengekor yakni emiten kimia yang rata-rata tumbuh 67,28%, disusul batu bara sebesar 39,22%, dan semen 22,37%. Sektor konsumsi yang tahun lalu paling tangguh, kali ini justru turun terbesar kedua, rata-rata 38,76%, digerakkan oleh PT Alfa Retailindo Tbk. Lima emiten di sektor konsumsi penyumbang 7% kapitalisasi indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia membukukan penurunan kinerja terbesar sepanjang semester I tahun ini. Dalam riset CIMB-GK mengenai sektor konsumsi pada 24 Juli, disebutkan pemodal mulai beralih dari hanya melihat saham emiten komoditas di Indonesia menjadi saham berbasis konsumsi. “Prospek makroekonomi yang menggembirakan seharusnya mendukung pemulihan daya beli konsumen. Namun, pemodal masih memiliki saham emiten di sektor ini secara terbatas karena kurangnya likuiditas,” ungkap riset itu. Laba bersih dua emiten perkebunan CPO anjlok terparah dengan rerata penurunan kinerja sebesar 61,77%. Dua emiten yang telah merilis kinerjanya adalah PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT Sampoerna Agro Tbk yang laba keduanya anjlok 51,81% dan 71,72%. Emiten utama di sektor telekomunikasi, perkapalan, dan migas sejauh ini belum melaporkan kinerja keuangannya. Negara maju Berbeda dari tren tersebut, sektor konstruksi di negara maju justru lesu, seperti terlihat pada pesanan konstruksi Jerman yang anjlok 7,3% secara tahunan. Di Amerika Serikat, sektor ini menjadi salah satu sektor penyumbang PHK terbesar setelah sektor manufaktur. Portland Cement Association memperkirakan permintaan semen di Amerika Serikat tahun ini masih melemah 7%, menjadi US$515 miliar, melanjutkan pelemahan sepanjang tahun lalu 12%. Di Indonesia, perusahaan semen justru membukukan pertumbuhan positif pada akhir triwulan II/2009. Kenaikan laba bersih dibukukan PT Semen Gresik Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk masing-masing sebesar 33,21% dan 51,81%. Sebaliknya, laba bersih PT Holcim Indonesia Tbk yang semula bernama PT Semen Cibinong justru anjlok 17,93%. Secara rata-rata, tiga perusahaan tersebut tumbuh 67,1%. Analis PT CIMB Securities Indonesia Liliana S. Bambang menilai sektor konstruksi Indonesia pulih sepenuhnya pada 2010, menyusul pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) menjadi 5%. “Meski fakta sektor konstruksi paling diuntungkan dari proyek infrastruktur, saham sektor ini tidak banyak dilirik karena kapitalisasi pasar dan likuiditas yang lemah,” tuturnya. Sektor semen, lanjutnya, memiliki valuasi menarik karena faktor suku bunga dan potensi kenaikan permintaan infrastruktur. Di sisi lain, emiten sektor batu bara juga menarik menyusul kenaikan permintaan dari India. Laba bersih PT Perusahaan Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) tumbuh 124,16%, disusul PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebesar 51,81%. Sebaliknya, laba bersih PT International Nickel Indonesia Tbk merosot 45,72%. Melihat fenomena demikian, terlihat adanya gejala penguatan faktor lokal atau glokalisasi yang membuat wajah dunia tidak seragam, seperti disinggung Kenichi Ohmae dengan istilah glokalisasi. Karena itu, bangsa Indonesia selayaknya percaya selalu ada peluang memperkuat keunggulan lokal, di tengah globalisasi. Membalik asumsi Thomas Friedman, the world is never flat. (Wisnu Wijaya) (arif.gunawan@bisnis.co.id) Oleh Arif Gunawan S. |
























