Menguji janji para capres. Perekonomian nasional dipengaruhi dua faktor

Bisnis Indonesia,  Selasa, 9 Juni 2009

Untuk menarik perha­ti­an pemilih, sebelum gong kampanye ditabuh, calon presiden (capres) mulai tebar pesona de­ngan mengobral ber­bagai janji mulai dari pe­nurunan tingkat peng­angguran sampai de­ngan tingkat pertum­buh­an ekonomi yang cukup tinggi.
Untuk janji yang terakhir ini, pa­sang­an Jusuf Kal­la-Wiranto menjanjikan tingkat pertumbuhan 8%, Su­silo Bambang Yudhoyono-Boe­diono 7%, pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo menjan­ji­kan di atas dua digit.

Tulisan ini akan mengulas se­pu­tar janji capres dalam konteks per­tumbuhan ekonomi saja, se­bab jika tingkat pertumbuhan eko­nomi dapat tercapai, tentu­nya­ janji-janji lainnya akan mu­dah dicapai. Bukankah dengan per­tumbuhan ekonomi yang ting­gi, otomatis akan mencipta­kan lapangan kerja yang tinggi, demikian pula dengan ting­kat kemakmuran rakyat.

Pertanyaan yang mendasar ada­l­ah realistiskah pertumbuh­an ekonomi yang dijanjikan ketiga capres tersebut? Secara jujur, ti­dak gampang untuk menjawab per­tanyaan ini. Banyak faktor yang akan memengaruhi tingkat per­tumbuhan ekonomi 5 tahun mendatang.

Pertama, dunia kini masih da­lam situasi krisis global yang be­lum jelas kapan akan berakhir. Bah­kan, menurut berbagai ana­lis, negara-negara di kawasan As­ia Tenggara akan menghadapi ma­sa sulit seiring dengan pelam­ban­­an ekonomi di AS. Negara-ne­­­gara Asia akan berkompetisi un­­tuk memperebutkan kue yang se­­makin kecil apabila impor AS mengecil.

­Asian Development Bank (ADB) juga tengah memangkas pro­­yeksi pertumbuhan ekonomi ne­gara-negara di kawasan Asia un­tuk tahun 2009. Eko­nomi Asia diprediksi men­ca­pai ti­tik terburuknya se­jak krisis fi­nansial 1997/1998. ADB mem­per­­kirakan perekonomian Asia ha­­nya akan tumbuh 3,4% pada 2009, atau turun ta­jam di­ban­­ding­­kan dengan pertumbuh­an eko­nomi Asia tahun lalu yang men­capai 6,3% dan 9,5% pada 2007.

Kedua, selain dipengaruhi re­sesi global, pertumbuhan ek­o­no­mi juga akan dipenga­ruhi per­kem­bangan har­­ga minyak. Data ter­­­akhir menunjukkan bah­­wa pa­da minggu keempat Mei, har­ga minyak dunia kembali me­nanjak mendekati US$60 per ba­rel, atau tepatnya US$57,78 per ba­rel dari posisi se­belumnya US$49,73 per berel (1 Mei 2009).

Harga minyak mentah dunia di­­­prediksi terus bergerak na­­ik dan kemungkinan akan me­­nem­bus level US$75-US$80 per barel. Bahkan, Arab Saudi ju­ga telah memperingatkan ke­mung­kinan harga emas hitam itu bisa men­dekati rekor tertinggi US$150 per barel, seperti 2008, pada 2 sampai 3 tahun men­­datang.

Dunia sedang menghadapi kem­­­bali meroketnya harga mi­nyak setelah terbanting ke titik te­r­endah sebagai akibat me­le­mah­­­­nya permintaan dunia akan energi akibat melambatnya per­eko­nomian global.

Maizar Rahman, mantan gu­ber­­nur OPEC, memperkirakan ba­­tas atas harga minyak mentah US$70 per barel pada 2010. Per­ki­­raan ini didasarkan atas perki­ra­­annya pada faktor kembali na­ik­­nya permintaan dunia akan mi­­­nyak dan kondisi geopolitik di Timur Tengah dan Nigeria be­lum stabil.

Kenaikan ini kemungkinan juga dipicu oleh me­nguat­nya pendapatan di sektor ritel Ame­rika yang menunjukkan ra­por yang le­bih baik dari yang di­perkira­kan sebelumnya. Hal ini ju­ga me­nandakan bahwa ke­me­ro­­sot­an pembelian konsumen Ame­­ri­ka kemungkinan akan ber­­­akhir.

Ekonomi AS

Terdapat pula dugaan bahwa in­vestor mulai berjibaku untuk me­mulihkan perekonomian AS se­dikit demi sedikit. Namun, ter­­­da­pat pula keraguan da­ri se­jum­lah trader bahwa per­eko­no­mian Amerika yang terbesar di du­nia itu sudah mulai kem­bali pulih.

Informasi berkenaan dengan per­sediaan minyak mentah Ame­rika beragam. Menurut Energy In­formation Administration un­tuk minggu kedua April, suplai mi­nyak mentah meningkat 1,7 ju­ta barel menjadi 361 juta barel, atau naik 15,2% dari level tahun lalu.

Survei yang dilakukan oleh Platts, McGraw-Hill Cos, menun­juk­kan bahwa analis mempre­dik­si persediaan akan bertambah se­be­sar 2,3 juta barel. Persediaan gasoline naik sebesar 600.000 ba­rel menjadi 217,4 juta barel, 1,4% di bawah level tahun lalu. Analis memprediksi persediaan un­tuk bahan bakar minyak akan me­nyusut sebesar 1,5 juta barel.

Dalam rangka mengantisipasi meroketnya harga minyak dunia ini, kelompok negara maju yang ter­gabung dalam G-8, sebagai­ma­na dikatakan oleh Menteri Energi Amerika Serikat, Steven Chu, meminta agar para negara pro­dusen menstabilkan harga mi­nyak mentah dunia, karena di­khawatirkan akan mengganggu upaya pemulihan ekonomi.

Rendahnya harga minyak di­ha­rapkan dapat mengurangi be­ban pada saat krisis seperti saat ini. Bo­leh jadi permintaan negara-ne­gara dalam G-8 ini hanya baik da­lam jangka pendek, tetapi se­baliknya akan berdampak ter­ba­lik dalam jangka panjang. Ren­dahnya har­ga minyak akan ber­dampak tu­runnya investasi energi dan tak menjamin stabilitas harga.

Di samping memandang perlu sta­bilitas harga minyak, negara-ne­gara yang tergabung dalam G-8, dalam pertemuannya di Je­pang, juga memandang perlunya teknologi baru yang lebih efi­si­en­si untuk memastikan stabilitas energi dan menghindari resesi glo­bal. Jika situasi seperti ini te­rus dibiarkan dikhawatirkan akan mengakibatkan resesi eko­no­mi dunia.

Dari kedua faktor utama yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas, kita dapat menilai apakah ting­kat pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan oleh para capres rea­listis atau tidak.

Sekadar pembanding, dengan asumsi tingkat inflasi 6,4%, SBI jangka 3 bulan 8,1% turun menjadi 7,5% dan kurs rupiah terha­dap dolar AS turun dari Rp10.900 menjadi Rp9.494 per US$1 dalam periode 2010-2014, ting­kat pertumbuhan ekonomi In­donesia diperkirakan hanya akan tumbuh berkisar 5,6% sampai dengan 6,4%. Ini pun dengan asumsi harga mi­nyak tidak akan melambung di atas US$100 per barel.

Tentu kita tidak berharap har­ga minyak akan melambung ke le­vel US$150 per barel, karena ka­­lau ini terjadi, proyeksi per­tumbuhan ekonomi tentunya akan terkoreksi lebih rendah la­gi.

Akhirnya pertanyaannya kita ada­lah untuk merealisasikan ting­k­at pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan para capres, program-program apa saja yang akan ditempuh para capres. Da­lam situasi abnormal sekarang ini sebaiknya para capres jangan ter­lalu mengobral janji. Ingat, jan­ji adalah utang.

Oleh Makmun
Peneliti Badan Kebijakan Fiskal, Depkeu

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *