‘Lindungi konsumen finansial AS’ Obama: Produk keuangan akan diawasi lebih ketat

Bisnis Indonesia,  Senin, 22 Juni 2009

WASHINGTON: Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan lembaga baru, yang tengah diusulkan sebagai bagian dari perombakan peraturan keuangan AS, akan melindungi konsumen dari praktik penipuan kredit.

Dia menegaskan peraturan itu untuk menjaga kepentingan konsumen. Peraturan baru tersebut akan mengoreksi kesalahan yang mendorong resesi global pertama sejak Perang Dunia II

“Lembaga Perlindungan Konsumen Keuangan [Consumer Financial Protection Agency] akan mengawasi produk keuangan, mulai dari hipotek sampai kartu kredit, dan mengeluarkan ketentuan produk keuangan yang berlaku secara nasional guna menghindari praktik tidak adil,” ujar Obama dalam pidato mingguan di radio dan Internet, akhir pekan lalu.

Obama mengajukan usulan perubahan pengawasan industri keuangan pada 17 Juni 2009. Perubahan peraturan ini, yang sebagian besar harus disetujui oleh Kongres, akan menambah aturan terhadap perusahaan keuangan.

Dalam kebijakan baru Obama itu, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mengawasi secara ketat kemungkinan gagal perbankan besar, perusahaan lindung nilai (hedge fund) dan perusahaan pendanaan aset swasta.

“Krisis ini kemungkinan bermula di Wall Street. Namun, dampaknya telah dirasakan sebagian besar warga Amerika yang mengandalkan kartu kredit, pinjaman rumah, dan instrumen keuangan lain.”

Obama menjelaskan sejumlah konsumen telah memikul tanggung jawab dari krisis karena menerima kredit dan pinjaman yang terlalu besar sehingga tidak mampu membayar kembali. Banyak konsumen jatuh ke dalam kondisi ini karena perusahaan keuangan.

“Kejadian itu bukan kebetulan, kurang kuatnya perlindungan bagi konsumen, menyebabkan ada penyalahgunaan kewenangan terhadap konsumen,” jelas Obama.

Lembaga baru, tambah Obama, akan mencegah keteledoran perusahaan keuangan memperhitungkan penerimaan keuntungan konsumen pada masa mendatang.

Obama mengatakan usulan itu mendapatkan dukungan dari Partai Demokrat yang mengendalikan DPR dan Senat. Usulan itu juga sedang menghadapi serangan lobi dari industri keuangan.

RUU baru pemerintahan Obama mengenai pengawasan industri keuangan memunculkan perang lobi di Capitol Hill atau di Kongres Amerika Serikat karena pembuat kebijakan mempertanyakan peran The Fed. Beberapa bankir menilai usulan itu menghambat pertumbuhan ekonomi.

Forum Sekuritisasi Amerika, yang anggotanya termasuk Goldman Sachs Group Inc dan JPMorgan Chase & Co, sebelumnya menilai kebijakan Obama membuat aturan pasar hipotek baku, kemungkinan bukan merupakan cara paling efektif.

Perusahaan keuangan, yang sebagian besar di antaranya disalahkan sebagai penyebab krisis kredit, menyatakan ingin memastikan industri keuangan tidak akan bertambah hancur dengan adanya peraturan yang lebih berat.

Belanja konsumen

Di tempat terpisah, sejumlah ekonom memproyeksikan belanja konsumen AS selama Mei 2009 akan naik untuk pertama kali sejak 3 bulan terakhir. Penjualan rumah meningkat karena kepercayaan naik. Keyakinan resesi ekonomi berakhir pada tahun ini berakhir kian bertambah.

Berdasarkan nilai tengah proyeksi 58 ekonomi yang dilakukan Bloomberg, belanja konsumen naik 0,3%. Angka realisasi belanja konsumen secara resmi akan diumumkan Departemen Perdagangan AS pada 26 Juni.

Survei menunjukkan nilai pembelian rumah baru dan rumah yang telah ada memperlihatkan perbaikan menjadi 5,18 juta, menutupi kerugian selama 2 tahun berturut-turut sejak 2006.

“Saat ini konsumen lebih optimistis dibandingkan dengan kekacauan pasar keuangan selama tahun lalu. Belanja sebagian konsumen menunjukkan kenaikan, setelah turun. Kondisi itu menunjukkan penurunan rumah sudah mencapai titik terbawa,” jelas Chris Rupkey, Chief Financial Economist Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd, di New York.

Laporan belanja Departemen Keuangan kemungkinan juga menunjukkan kenaikan pendapatan 0,3% selama Mei dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pada April 2009 pendapatan dilaporkan naik 0,5%.

Angka ini kemungkinan besar merefleksikan pemangkasan pajak dan transfer yang terkait dengan kebijakan stimulus pemerintah.

Berdasarkan nilai tengah survei itu, penjualan tahunan rumah naik 2% menjadi 4, 82 juta, tertinggi sejak Oktober, pada saat krisis keuangan.

Penurunan kasus penyitaan rumah turun terjadi pada saat nilai rumah membantu mengurangi peningkatan rumah yang tidak terjual.

Laporan Departemen Perdagangan kemungkinan menunjukkan kenaikan pembelian rumah baru tahunan yang mencapai 2,3% selama Mei menjadi 360.000. (esu)

Bloomberg

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *