Bisnis Indonesia, Jumat, 12 Juni 2009
Pelaku pasar mengetahu PT Bumi Resources Tbk agresif melancarkan akuisisi sejak 2002, hingga bisa menjadi eksportir batu bara terbesar Asia Tenggara seperti sekarang.Saat ini, pelaku pasar bertanya-tanya seputar nasib akuisisi terbaru mereka.
Menyambut lembaran baru 2009, manajemen Bumi ?membombardir? bursa dengan tiga rencana akuisisi besar, yang terbilang kontroversial karena mengundang intervensi otoritas pasar modal dan bursa.
Setelah mengumumkan rencana akuisisi 80% saham Zurich Investment, pemilik 55% saham PT Darma Henwa Tbk senilai US$218 juta, perusahaan milik grup Bakrie ini mengumumkan akuisisi 76,9% saham Leap Forward Finance Ltd, pemilik 98,5% saham PT Fajar Bumi Sakti, senilai US$222 juta pada 5 Januari.
Tak berhenti di situ, pada 7 Januari Bumi mengumumkan rencana akuisisi 89% saham Pendopo Coal pemilik 95% saham PT Pendopo Energi Batubara, senilai US$117 juta.
Berbekal penilaian ketiga transaksi material itu, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengirim Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (Mappi) menilai ulang transaksi akuisisi oleh Bumi.
Menyusul hasil penilaian Mappi nanti, setidaknya ada tiga skenario yang akan dihadapi manajemen Bumi terkait dengan nasib akuisisi tersebut, yakni pemangkasan harga, pembatalan transaksi, atau sebaliknya transaksi berjalan sesuai dengan rencana.
.
|
Estimasi kinerja dan valuasi PT Bumi Resources Tbk (Rp miliar) |
|||||
|
|
2006 |
2007 |
2008* |
2009* |
2010* |
|
Pendapatan |
2.266 |
3.378 |
3.325 |
3.176 |
3.320 |
|
Laba bersih |
789 |
645 |
500 |
375 |
363 |
|
PER (x) |
5,1 |
5,8 |
7,4 |
10,1 |
10,3 |
|
Yield dividen (%) |
6,6 |
4,8 |
4 |
3,1 |
2,3 |
|
EV/EBITDA (x) |
8,8 |
4,5 |
3,9 |
4,8 |
4,7 |
Sumber: PT Danareksa Sekuritas (2009)
Keterangan: *) estimasi; PER: rasio harga saham dibandingkan laba per saham;
EV/EBITDA: rasio nilai perusahaan terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi.
|
Data Saham |
|
|
Kode |
BUMI |
|
Rekomendasi |
bumi |
|
Harga |
Rp2.225* |
|
Target harga |
Rp2.000 |
|
Kapitalisasi pasar (miliar) |
Rp43,17 triliun |
Sumber: PT Danareksa Sekuritas (2009)
Keterangan: *) harga di pasar per 10 Mei 2009
Analis PT Danareksa Sekuritas Felicia Barus menilai kalaupun terjadi perubahan akuisisi ketiga aset pertambangan tersebut, kinerja perseroan tidak banyak terpengaruh. Dia memilih merekomendasikan beli saham ’sejuta umat’ tersebut.
“Kami tidak memasukkan kontribusi dari aset yang akan diakuisisi Bumi tersebut ke dalam valuasi. Jadi, jika valuasi akuisisi aset tersebut diturunkan, akan ada potensi kenaikan laba bersih,” tuturnya dalam laporan riset per 27 Mei.
Dia memperkirakan setiap pengurangan nilai akuisisi sebesar 10%, gearing (rasio utang terhadap ekuitas) Bumi akhir tahun akan menurun 2,6% dan laba bersih akan bertambah 0,4%.
Sesuai dengan valuasi yang menempatkan lebih banyak bobot perhitungan PER, Felicia menaikkan target harga saham Bumi sebesar 67% menjadi Rp2.000 per saham, mengikuti pandangan positif pasar terhadap sektor batu bara di tengah kenaikan harga minyak mentah.
“Lebih jauh lagi, citra Bumi juga membaik karena transaksi repo dan isu good corporate governance [GCG] telah tuntas. Ini tecermin dari kenaikan harga saham sebesar 35% dalam sebulan terakhir, sehingga valuasi Bumi sejalan dengan industri.”
Utang melonjak
Danareksa mencatat utang Bumi naik menjadi US$1,66 miliar pada triwulan I/2009, setelah perseroan menarik utang senilai US$72 juta dan US$100 juta untuk membiayai akuisisi Pendopo.
“Akibatnya, gearing akhir tahun kami perkirakan naik menjadi 63% dari sebelumnya 59%, masih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.”
Analis PT CIMB-GK Securities Indonesia Rania Rahmundita menilai lonjakan utang Bumi terjadi pada triwulan IV/2008 untuk mendanai tambahan investasi senilai US$200 juta terhadap beberapa perusahaan, salah satunya Dharma Henwa.
“Gearing bersih tumbuh menjadi 58% dari semula 9%. Namun, jika hanya memperhitungkan kas di tangan, gearing bersih melonjak menjadi 77% dari semula 19%,” paparnya dalam laporan riset per 1 April.
Posisi kas perseroan naik menjadi US$630 juta, dari posisi akhir 2007 senilai US$386 juta, yang separuh di antaranya diinvestasikan ke portofolio jangka pendek. Nilai investasi tersebut tidak berubah secara triwulanan, meski naik 152% secara tahunan.
Per Desember tahun lalu Bumi sempat mencatatkan pertumbuhan kas dari US$67 juta per September 2008 menjadi US$172 juta. Namun posisi utang pada tahun lalu bertambah menyusul akuisisi Herald dan belanja modal aset nonbatu bara yang mendorong perseroan menarik utang baru senilai US$1 miliar.
Rania menilai dampak penurunan harga minyak mentah dunia mulai menekan Bumi pada triwulan IV/2008, di tengah kenaikan beban pajak hingga 25% pada triwulan IV/ 2008. Sebagai perbandingan, pada triwulan III/2008, beban pajak Bumi hanya sebesar 14% sehingga mengurangi laba bersih.
“Kita kemungkinan tidak akan melihat momentum pertumbuhan operasional yang kuat seperti pada tahun lalu. Di sisi lain, kami mengekspektasikan laba bersih Bumi turun akhir tahun ini akibat kenaikan pajak sebesar 30%,” tuturnya.
Dia memperkirakan rasio pembayaran dividen sebesar 30% dari laba bersih 2008, yang mengimplikasikan yield 14%. “Kami tidak menilai saham ini bearish, karena percaya tekanan jual berakhir dengan aksi beli investor lokal,” ujarnya.
Dari sisi pasar, Felicia menilai harga jual rata-rata (average selling price/ ASP) batu bara akhir tahun ini sebesar US$65,6 per ton, atau lebih tinggi dari proyeksi perseroan sebesar US$60 per ton.
“Kami memilih mempertahankan proyeksi terkait dengan pulihnya harga kontrak batu bara ke depan,” tuturnya, kemarin.
Karena Bumi hanya memiliki kontrak 80% dari penjualan batu bara dan berencana menaikkan inventori menjadi 4 juta ton, harga jual diperkirakan masih tinggi akhir tahun ini. (arif.gunawan@bisnis.co.id)
Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia
























