Euforia Beli dan Ekonomi Riil

Kompas,  Selasa, 2 Juni 2009

Pelaku pasar saham kembali dilanda euforia menyusul sejumlah sentimen positif yang beredar belakangan ini. Bila akhir tahun lalu yang ada di benak mereka jual, jual, dan jual saham, maka sejak dua bulan terakhir beli, beli, dan beli saham. Euforia ini kembali mendorong pasar finansial bergerak lebih awal mendahului roda fundamental ekonomi riil. Aksi borong di pasar saham belakangan ini tidak hanya pada saham unggulan. Saham lapisan kedua dan ketiga yang tadinya tidak dilirik, bahkan yang masih bermasalah, ikut dilahap habis.

Pelaku pasar yang seakan tidak ingin ketinggalan kereta mengangkat harga saham cukup tinggi. Dari akhir Desember 2008 sampai 29 Mei 2009, IHSG naik 40 persen lebih. Untuk saham lapis kedua dan ketiga bahkan hingga 100-200 persen.

Dengan kenaikan itu, price earning (PE) IHSG per 17 April mencapai 11 kali dan akhir Mei lalu 13 kali. Harga ini relatif mahal dibanding di negara tetangga yang hanya 7-10 kali.

Kenaikan IHSG di BEI ini dipengaruhi sejumlah sentimen positif. Di dalam negeri, inflasi semakin terkendali, pemilu relatif aman, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I tahun 2009 sebesar 4,4 persen.

Dari luar negeri, Amerika Serikat dan Eropa telah menyiapkan berbagai langkah untuk mengatasi krisis. Ada juga komitmen G-20 melakukan stimulus fiskal.

Namun, data dan asumsi tadi tidak serta-merta menjamin bahwa fundamental ekonomi Indonesia dan global sedang membaik (bullish) berkelanjutan. Apalagi, di tengah sentimen positif tadi, kinerja keuangan sebagian besar emiten pada triwulan I tahun 2009 justru merosot hingga 70 persen lebih.

Mandiri Sekuritas memperkirakan pertumbuhan laba per saham (EPS) emiten tahun 2009 ini turun hingga 11 persen. Lebih buruk dibanding Singapura yang turun 7,9 persen, Hongkong tumbuh 0,4 persen, dan India tumbuh 8,2 persen.

Menurut Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero, ekonomi Indonesia sebenarnya masih kritis, yaitu terkait naiknya kredit bermasalah (NPL) dari 2,5-3 persen pada tahun lalu menjadi 4,5 persen. Kenaikan NPL ini bisa mendorong perbankan tetap memperketat kredit dengan bunga tinggi sehingga berdampak pada kebutuhan modal kerja sektor usaha ke depan.

Soal ekonomi AS yang menjadi epicentrum krisis finansial, Poltak mengatakan, defisit perdagangan AS masih cukup besar, inflasi dan pengangguran yang terus naik, serta kebangkrutan sejumlah industri strategis.

Dari logika ekonomi, fakta di atas irasional karena harga saham tak lagi mencerminkan faktor fundamentalnya. Dalam buku Behavioral Trading (2003), Woody Dorsey menegaskan, ”Human behaviour is the key determinants of the market”.

Pergerakan harga saham seringkali bukan dipengaruhi faktor fundamental, melainkan perilaku. Perilaku itu dibentuk oleh level confidence (keyakinan) dan harapan investor.

Di saat pasar naik, keyakinan dan harapan investor cukup tinggi, melebihi hitungan fundamental. Ketika melemah (bearish), keyakinan dan harapan pasar teramat rendah, sekalipun fundamental cukup baik.

”Pasar seringkali gila,” kata ekonom John Maynard Keynes menjelaskan apa yang kerap terjadi pada pasar finansial dunia.

Perilaku pasar keuangan yang kerap bertentangan dengan kondisi ekonomi riil ini juga dipengaruhi perilaku ketakutan (fear) dan perilaku keserakahan (greed). Ketika keserakahan lebih dominan, pasar akan berjalan sangat cepat, menggelembung dan pecah, seperti yang telah terjadi di dunia beberapa kali.

Sebaliknya, saat ketakutan mendominasi, perekonomian akan melambat, bahkan jalan di tempat. Dalam konteks pasar modal, kedua perilaku itu merupakan akselerator dari tren pergerakan indeks saham.

Kejatuhan harga saham global pada 2008 adalah contoh perubahan perilaku investor, dari serakah menjadi takut. Dan bisa saja peningkatan harga saham global belakangan ini, terlebih di Indonesia, merupakan contoh perubahan perilaku investor yang sebelumnya ketakutan menjadi serakah.

Pergerakan harga saham memang selalu mendahului pergerakan ekonomi riil. Namun, perlu diingat, pergerakan yang dibentuk oleh perilaku investor itu bisa saja salah arah.

Reaksi yang berlebihan atas sentimen positif maupun negatif di pasar saham tanpa berdasarkan analisa mendalam sudah saatnya dihentikan, karena sangat mungkin merugikan investor. Apalagi, jika reaksi itu didorong perilaku ikut-ikutan (herding behaviour) yang melekat pada investor di negara berkembang.

Oleh : Reinhard Nainggolan

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *