Volatilitas kurs bayangi prospek Unilever. Kas akhir 2009 diperkirakan capai Rp904 miliar

Bisnis Indonesia,  Senin, 25 Mei 2009

Di tengah sikap royal PT Unilever Indonesia Tbk membagi 100% laba bersihnya sebagai dividen, perseroan masih menghadapi risiko depresiasi nilai tukar yang bisa menggerus margin tahun ini.
Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pekan lalu, perseroan memutuskan membagi dividen Rp315 per saham dari laba bersih 2008, termasuk di dalamnya dividen interim Rp95 per saham yang telah dibagi tahun lalu.

Tradisi bagi-bagi dividen dari laba bersih tersebut memang logis dijaga, mengingat perseroan sampai sekarang tidak memiliki beban utang sama sekali, dan posisi kasnya masih kuat yakni senilai Rp965,69 miliar (per Maret 2009).

Namun, analis PT Citigroup Securities Indonesia Ella Nusantoro mengingatkan perlunya investor mengantisipasi pelemahan rupiah, yang dipastikan menekan margin perseroan karena 60%-70% biaya produksinya terkait erat dengan dolar AS.

“Meski perseroan diuntungkan dari penurunan harga komoditas. Namun, dengan mayoritas beban berdenominasi dolar, pelemahan rupiah akan menggerus keuntungan dari penurunan harga komoditas tersebut,” tuturnya dalam laporan riset per 4 Mei.

Secara umum, lanjutnya, pihaknya masih prihatin dengan kondisi makro yang belum menguntungkan seperti pelemahan pertumbuhan ekonomi nasional dan kenaikan jumlah pengangguran.

Meski demikian, Citigroup menyukai sisi operasi perseroan terutama setelah emiten menaikkan rerata harga jualnya pada tahun lalu sebesar 14% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya, yang akan terefleksikan pada kinerja tahun ini.

“Kami mengasumsikan pertumbuhan volume penjualan sebesar 7% dan kenaikan rerata harga jual sebesar 9% pada akhir tahun ini, sehingga pendapatan perseroan akan tumbuh 16% secara tahunan,” ujarnya.

Namun, lagi-lagi faktor valuta asing menjadi problem. Dengan asumsi rupiah melemah dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Citigroup memproyeksikan margin kotor Unilever turun menjadi 48% dari posisi tahun lalu sebesar 49%.
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS 明朝”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS Mincho”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face {font-family:Century; panose-1:2 4 6 4 5 5 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”MS Pゴシック”; panose-1:2 11 6 0 7 2 5 8 2 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Pゴシック”; panose-1:2 11 6 0 7 2 5 8 2 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS 明朝”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0mm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS 明朝”;} /* Page Definitions */ @page {mso-page-border-surround-header:no; mso-page-border-surround-footer:no;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:99.25pt 30.0mm 30.0mm 30.0mm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

.

Valuasi saham dan kinerja PT Unilever Indonesia Tbk

2007

2008

2009*

2010*

2011*

Pendapatan (Rp miliar)

12.545

15.578

18.083

21.320

25.669

EBITDA (Rp miliar)

2.865

3.520

3.989

4.504

5.726

Laba bersih (Rp miliar)

1.960

2.407

2.808

3.300

4.214

EPS (Rp)

257

315

368

432

552

DPS (Rp)

205

257

315

368

432

PER (x)

22

24,6

21,1

17,9

14

EV/EBITDA (x)

20,3

16,6

14,7

13

10,1

PBV (x)

22

19,1

16,9

14,8

12,1

Yield dividen (%)

2,6

3,3

4,1

4,7

5,6

ROE (%)

77,4

83,1

85,1

88,1

94,

Keterangan: *) estimasi; EBITDA: earning before interest, tax, depreciation, and amortization/ laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi;
EPS: laba bersih per saham; DPS: dividen per saham; PER: rasio harga saham dibandingkan dengan laba per saham;
EV: nilai perusahaan; PBV: rasio harga saham dibandingkan dengan nilai buku; ROE: pengembalian ekuitas

Data saham

Kode

UNVR

Rekomendasi

jual

Harga

Rp7.900*

Target harga

Rp7.764

Kapitalisasi pasar

Rp60,28 triliun

Sumber: PT Citigroup Securities Indonesia (2009)
Ket.: *) harga di pasar per 22 Mei 2009

Selanjutnya, margin operasional diperkirakan tertekan menjadi 21%, dari posisi tahun lalu sebesar 22%, meski laba bersih diperkirakan senilai Rp2,8 triliun atau naik 17% secara tahunan.

Harga saham

Risiko kurs yang membayangi sepanjang tahun ini membuat Citigroup menyesuaikan target harga saham Unilever dan merekomendasikan jual saham perseroan yang berkode UNVR tersebut.

“Kami menyesuaikan estimasi saham Unilever untuk merefleksikan kinerja aktual tahun lalu, dan perubahan asumsi rata-rata kurs rupiah 2009 dan 2010 sebesar Rp11.100 dan Rp10.325, dari semula Rp11.300 dan Rp9.250 per dolar AS,” papar Ella.

Citigroup mempertahankan target harga pada level Rp7.764 per saham, yang mengimplikasikan 21,1 kali PER 2009 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 17% dari 2008-2010.

Peringkat saham tersebut ditetapkan dengan risiko rendah berdasarkan metode arus kas diskonto (discounted cash flow/ DCF) dan sistem pemeringkatan risiko kuantitatif, yang merekam volatilitas harga saham di pasar selama 260 hari terakhir.

“Kami menetapkan peringkat saham UNVR pada posisi jual dengan risiko rendah, karena kami percaya valuasi telah meninggi, meski saham tersebut secara luas dianggap sebagai saham defensif,” ujar Ella.

Namun, saham UNVR bisa melampaui target jika kurs rupiah menguat dan harga komoditas anjlok. Faktor positif lainnya adalah kenaikan penjualan produk bermargin tinggi, akuisisi, pemulihan daya beli masyarakat, dan perbaikan ekonomi makro.

Hingga Maret, faktor kurs belum menekan kinerja Unilever, menyusul kenaikan laba kotor Unilever sebesar 8% secara tahunan akibat pelemahan rupiah. Margin kotor di sisi lain anjlok menjadi 47% dari posisi triwulan I/2008 sebesar 51%.

Unilever mencatatkan kenaikan pendapatan tahunan sebesar 18% per triwulan I/2009, akibat efek lanjutan kenaikan harga pada tahun lalu. Pertumbuhan volume penjualan berkisar 5% secara tahunan.

Divisi home & personal care (HPC) tercatat menyumbang 80% pendapatan, naik 22% secara tahunan, sedangkan divisi food & beverage (F&B) hanya tumbuh 6% secara tahunan.

Margin operasi tertekan menjadi 23,8% dari posisi triwulan I/2008 sebesar 25,8%, dengan kenaikan laba bersih secara tahunan sebesar 9% menjadi Rp769 miliar. Hingga akhir Maret 2009, posisi kas perseroan mencapai Rp966 miliar.

“Kami mengestimasikan kas perseroan akan mencapai Rp904 miliar pada akhir tahun ini, dengan mengasumsikan rasio setoran dividen sebesar 100% [dari laba bersih],” ujarnya.

Ella menilai jika ekonomi makro terus memburuk, produk barang konsumsi bisa turun menjadi produk berharga murah, sehingga memengaruhi margin Unilever. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *