Bisnis Indonesia, Kamis, 8 Januari 2009
Perekonomian dunia sepanjang tahun lalu mengalami gejolak luar biasa. Berbagai sentimen negatif setidaknya telah terdiagnosa dengan mulai munculnya penurunan kinerja ekspor nasional sepanjang 2008, menciutnya kapasitas produksi manufaktur, dan ancaman PHK massal. Terkait penyelamatan sektor industri, Bisnis mewawancarai Ketua Umum Kadin Indonesia M.S. Hidayat. Berikut petikannya:
Pemerintah menambah stimulus fiskal jadi Rp50 triliun. Respons Anda?
Pada prinsipnya kami menyambut gembira karena langkah pemerintah sudah tepat. Hal itu sesuai dengan usulan Kadin pada November bahwa pada Desember 2008 harus dirumuskan suatu kebijakan stimulus fiskal dan stimulus ekonomi.
Akan tetapi ini belum cukup. Pengusaha dan pemerintah harus bersama-sama memikirkan berbagai kebijakan yang bisa memperkuat daya beli masyarakat. Ini bisa terwujud jika harga BBM diturunkan lagi ke tingkat yang paling rasional mengingat pergerakan harga minyak dunia masih berada di titik terendah.
Penurunan harga premium dan solar, dua kali selama Desember 2008 [tanggal 1 dan 15] terbukti ampuh karena deflasi pada Desember tercatat 0,04%.
Agar akses permodalan sektor riil meningkat, penurunan BI Rate dari 9,25% menjadi 8,5% harus menjadi agenda berikutnya. Suku bunga kita masih belum kompetitif. Saya kira semua agenda itu harus dilaksanakan pada Januari ini.
Meski sudah dipetakan, pemerintah belum memberikan juknis stimulus. Dampaknya?
Sekarang pemerintah sedang menyusun regulasinya. Namun, semestinya sektor-sektor yang segera melakukan PHK harus diutamakan. Kami prediksi PHK akan terjadi mulai kuartal I dan II/2009. Untuk itu, sektor-sektor padat karya seperti tekstil dan produk tekstil, alas kaki, serta elektronik perlu diprioritaskan.
Regulasi itu perlu secepatnya dikeluarkan mengingat sektor-sektor ini akan mengalihkan pasar mereka ke dalam negeri. Dengan demikian, beban bisa dipikul bersama dan rencana PHK bisa ditunda. Sebab, kejatuhan ekspor sudah terjadi dan kapasitas produksi manufaktur terus menciut.
Sekitar Rp12,5 triliun sudah dialokasikan ke sektor industri. Nah, sisa Rp38 triliun sebaiknya diarahkan ke mana?
Pemerintah perlu menggelontorkannya untuk perbaikan infrastruktur di daerah terpencil di luar Jawa. Apabila infrastruktur di luar Jawa diperbaiki, diharapkan terjadi multiplier effect yang dirasakan dunia usaha di daerah, terutama untuk sektor konstruksi dan belanja barang. Pada saat bersamaan, pemerintah perlu mempercepat belanja APBN 2009. Ini sejalan dengan komitmen pemerintah mengoptimalkan penggunaan produksi dalam negeri.
Nah, sekarang adalah waktu yang tepat untuk segera mengeluarkan payung hukum berupa instruksi presiden (inpres) penggunaan produksi dalam negeri, terutama untuk bahan baku yang dihasilkan dari industri lokal yang akan diserap ke sektor hilirnya.
Namun, pengusaha khawatir pemerintah memperketat persyaratan penerima stimulus. Ada solusi?
Saat ini iklim perekonomian kita berada pada situasi darurat sehingga pemerintah perlu menempuh langkah-langkah di luar kondisi normal. Kalau dipersulit dengan berbagai persyaratan birokrasi dan target-target tertentu, saya rasa kurang tepat.
Kita sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan berbagai kerumitan, mengingat dampak resesi global sudah di depan mata. 2009 ini merupakan tahun aksi untuk merealisasikan semua agenda perbaikan ekonomi nasional.
Pemerintah baru saja menurunkan BI Rate jadi 8,75%. Sikap Anda?
Ini berita yang cukup menggembirakan karena program penurunan BI Rate merupakan agenda yang didesak oleh Kadin. Namun, Bank Indonesia selaku otoritas moneter pada saat yang sama juga perlu segera menurunkan tingkat suku bunga kredit.
Sebab, hambatan utama pada saat BI Rate diturunkan adalah lambatnya perbankan menurunkan bunga kredit. Pada saat BI Rate di posisi 9,25%, suku bunga kredit masih berkisar 18%. Kondisi ini tentu akan menyulitkan sektor riil memperoleh akses permodalan.
Kami juga meminta pemerintah untuk memperluas bentuk stimulus fiskal berupa penangguhan pembayaran pajak PPh dan PPN. Yang perlu digarisbawahi adalah kebijakan sektor fiskal juga harus sejalan dengan moneter dan administrasi. Kecepatan pemerintah dalam merealisasikan kebijakan yang dibuat menjadi sangat penting saat ini.
Meski ada krisis, beberapa sektor usaha masih mengalami pertumbuhan positif. Respons pengusaha?
Memang setelah saya cek, masih ada kinerja ekspor dari industri kita yang bertahan di luar negeri. Beberapa ekspor ke AS masih positif. Ini dialami beberapa sektor seperti peralatan dapur rumah tangga dari bahan baja. Satu pabrik ada di Jabar.
Selain itu, beberapa industri kerajinan tangan (handycraft) dari Jateng juga masih bertahan. Beberapa sektor mebel juga ada yang belum berkurang volume ekspornya meski kontrak pada tahun ini ada yang belum ditandatangani.
Mereka mengaku kepada saya tidak ada pengurangan volume ekspor karena dijual untuk konsumen kelas menengah atas. Industri-industri yang masih bertahan ini perlu mendapatkan perhatian ekstra pemerintah, mungkin dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang dibutuhkan.
Mengingat sifat stimulus itu temporer, apakah masih diperlukan pada 2010?
Untuk tahun depan, tentu akan kami lihat seberapa efektifkah stimulus 2009 ini bisa mempertahankan kondisi ekonomi kita. Pada prinsipnya, kalau semua persyaratan tadi terpenuhi dan tidak terlambat untuk dimulai pada kuartal I/2009, tentu target pertumbuhan ekonomi sekitar 5% bisa dicapai.
Meski pada 2010 dampak negatif resesi global masih akan terjadi, kami yakin pertumbuhan negatif sektor riil masih bisa kita kendalikan. Asalkan pada tahun ini semua pihak berkomitmen melaksanakan langkah-langkah konkret penyelamatan ekonomi yang telah dirumuskan bersama.
Pewawancara: Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
























