Bisnis Indonesia, Sabtu, 3 Januari 2009
JAKARTA: Nilai tukar rupiah berpeluang menguat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, yaitu pada paruh kedua 2009, terdorong oleh tren arus modal masuk dan pelemahan dolar AS.
Pada akhir tahun, kurs rupiah sempat menguat menyusul spekulasi pelemahan permintaan terhadap dolar AS, setelah Federal Reserve menerapkan kebijakan pembatasan perdagangan spekulatif.
Rupiah menjadi mata uang berkinerja terbaik kedua pada Desember di antara 10 mata uang yang paling aktif ditransaksikan di Asia, di luar yen Jepang.
Alfred Pakasi, Managing Director PT Vibiz Capital, memperkirakan nilai tukar rupiah pada tahun ini lebih kuat dibandingkan dengan 2008. Dia memprediksi rupiah akan rebound pada pertengahan 2009, bahkan bisa lebih cepat.
“Penguatan nilai tukar rupiah bergantung pada pergerakan dana keluar dan masuk di pasar modal, selain juga kondisi kondusif ekonomi Indonesia dan pasar modal,” katanya kepada Bisnis.
Nilai tukar rupiah, berdasarkan data Bloomberg, bertahan pada level Rp11.015 per dolar AS pada 2 Januari, sedikit melemah dibandingkan dengan posisi pada hari sebelumnya yang masih Rp10.992 per dolar AS.
Presdir PT Pemeringkat Efek Indonesia Kahlil Rowter memprediksi kurs rupiah mampu bertahan pada kisaran Rp10.000-Rp11.000 sampai dengan akhir tahun ini.
Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono memperkirakan rupiah pada awal tahun ini masih menuju keseimbangan baru ke level Rp10.500 per dolar AS.
Penguatan itu, menurut Tony, ditopang oleh fenomena kembalinya modal ke negara-negara berkembang yang sebelumnya sempat keluar.
Alfred menjelaskan penguatan rupiah juga didorong oleh pelemahan nilai tukar dolar AS yang diperkirakan berlangsung pada semester II/2009. “Gejalanya sudah mulai terlihat dari penguatan euro akhir-akhir ini. Saya justru melihat kemungkinan pelemahan yang lebih cepat sebelum semester II,” katanya.
Ketakutan investor
“Bertahannya nilai rupiah karena jumlah dolar AS yang diterbitkan Amerika Serikat akan berdampak negatif pada nilai tukarnya,” ujar Kahlil belum lama ini.
Penyedotan uang dunia ke AS, sambungnya, diperkirakan mencapai US$2,2 triliun-US$3 triliun.
Kebijakan itu, kata Kahlil, akan menyebabkan pemilik modal khawatir memegang dolar AS, sehingga mendepresiasi nilai tukarnya. Sebagai gantinya, investor kembali melirik negara berkembang.
Kemarin, beberapa saham di pasar Asia dibuka menguat. Hong Kong menikmati lonjakan tertinggi sejak tahun 2000 yang ditopang oleh kenaikan harga saham komoditas dan telekomunikasi.
Indeks saham Hang Seng di Hong Kong naik 4,6% ke level 15.042,81, yang merupakan pembukaan perdagangan pertama terbaik sejak 1970. Hampir semua pasar modal menguat, kecuali Australia dan Vietnam. Bursa saham Jepang, China, Selandia Baru, Taiwan, Indonesia, Thailand, dan Filipina kemarin tutup.
Menanggapi prediksi penguatan nilai rupiah, Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra mengatakan apresiasi tersebut memberi dampak positif terhadap kinerja industri dan konsumen. (11/21/Siti Munawaroh) (nana.oktavia@bisnis.co.id/ lutfi. zaenudin@bisnis.co.id)
.
Oleh Nana Oktavia Musliana & Lutfi Zaenudin
Bisnis Indonesia
























