Portofolio, Salah Satu Cara Paling Efektif dalam Menekan Risiko Investasi di Saham

Republika,  2008-10-13
Memahami karakteristik saham memudahkan investor untuk mengetahui adaptasi saham tersebut dengan pasar.
Investasi dalam bentuk apapun pasti sarat akan risiko. Risiko dalam investasi bisa apa saja, mulai  dari yang terkait dengan produknya hingga yang berhubungan dengan pasar dari produk tersebut. Misalkan ketika berinvestasi pada properti, maka investor akan sangat diuntungkan apabila pasarnya tengah booming. Tapi begitu pasarnya anjlok, praktis investor yang menanamkan uangnya pada instrumen investasi seperti rumah, tanah  serta  produk properti lain tentunya merugi.

Dalam investasi di pasar modal juga demikian. Ketika saham sektor minyak mengalami booming karena kenaikan harga komoditasnya, kontan saham-saham sektor minyak dan komoditas subtitusi minyak lainnya mengalami kenaikan harga. Namun begitu harga minyak jatuh, mendadak sontak saham-saham sektor itu pun akan mengalami penurunan. Dan saham-saham sektor lain yang mengalami kenaikan misalnya, sektor perbankan, infrastruktur dan manufaktur. Jadi dalam investasi apa pun bentuk dan instrumen yang menjadi sasaran investasi kenaikan dan penurunan harga saham tidaklah permanen. Pasti mengalami pasang surut: terkadang naik, mendatar dan turun.

Karakteristik investasi yang demikian itu, menyebabkan investor harus memiliki banyak strategi investasi.
Dalam investasi  dituntut untuk selalu ”mengelola risiko” agar hasil investasinya selalu optimal. Dan cara termudah dan paling efektif dalam mengelola investasi ini adalah dengan menempatkan dana tidak hanya pada satu instrumen investasi saja, tapi melakukan penyebaran investasi pada beberapa produk investasi.

Strategi melakukan penyebaran investasi pada banyak produk ini  disebut dengan membentuk portofolio investasi. Tujuan pembentukan portofolio adalah mengurangi kerugian investasi yang mungkin timbul dari suatu sarana investasi dengan menutupnya menggunakan keuntungan yang diperoleh dari sarana investasi yang lain. Dengan kata lain jika keduanya memberikan keuntungan maka investor tidak akan menderita kerugian.

Jadi inti mengurangi atau mengelola risiko investasi adalah membangun portofolio: ”don’t put all your eggs in one basket” Jangan meletakkan seluruh telur dalam satu keranjang sebab jika keranjang jatuh maka seluruh telur bisa pecah semua. Jadi dalam teori investasi atau portofolio, produk investasi harus berbeda-beda sehingga risiko rugi pada produk yang satu akan tertutupi oleh produk investasi yang lain.

Secara umum, produk investasi dikelompokkan berdasarkan hasilnya menjadi  dua golongan. Pertama, produk Investasi Pendapatan Tetap (fixed income investment), yaitu produk investasi yang sudah pasti memberikan pendapatan (biasanya disebut bunga). Kedua, produk Investasi Pertumbuhan (growth income investment), yaitu produk investasi yang tidak memberikan hasil pasti berupa bunga, tetapi hanya memberikan hasil apabila dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Contoh : saham, emas, rumah, barang-barang koleksi, mata uang asing.

Dengan banyaknya ragam produk investasi yang bisa mengisi portofolio itu, menyebabkan investor perlu melakukan berbagai pertimbangan sebelum melakukan investasi. Pertimbangan sebelum investasi itu bisa kita katakan sebagai proses menentukan keputusan investasi.

Bicara proses keputusan investasi, maka sebuah investasi, proses pengambilan keputusan harus berkesinambungan atau disebut dengan on going process. Karena itu dalam proses keputusan investasi ini ada beberapa tahap yang harus dilalui, menetukan tujuan investasi, menentukan kebijakan investasi dan pemilihan strategi atau skenario investasi.

Tahap menentukan tujuan investasi menyangkut jangka waktu investasi (pendek/panjang), berapa target  return yang akan dicapai. Sedangkan tahap menentukan kebijakan investasi ini yang harus dilakukan investor adalah mengetahui  dan mengerti karakter risiko (risk profile) masing- masing apakah seorang yang mau mengambil risiko atau menghindari risiko, berapa banyak dana yang akan diinvestasikan,  fleksibilitas investor dalam waktu untuk memantau investasi, pengetahuan akan pasar modal. Setelah itu baru melakukan pemilihan isi dan aset portofolio. Kalau seluruh isi portofolio adalah saham, maka yang mesti diketahui adalah karakteristik dan jenis saham.

Jenis Saham

Apabila istilah telur adalah saham, saham apa saja yang layak untuk dibeli agar portofolio investasi yang dibentuk selalu terhindar dari kerugian? Jelas untuk menjawab pertanyaan itu tentunya tidak mudah. Menentukan saham A bergerak naik dan saham B turun, siapa pun tidak bisa memastikannya jika berhadapan dengan pasar. Contohnya awal September lalu, ketika pasar saham global jatuh, Pasar Modal Indonesia juga jatuh. Padahal jelas-jelas fundamental ekonomi Indonesia bagus, laba emiten juga mengalami kenaikan. Karena itu guna menghindari risiko tersebut yang bisa dilakukan investor adalah memahami karakteristik dari saham-saham yang membentuk portofolio investasinya.

Untuk itu yang perlu dipahami adalah mengetahui jenis dan karakteristik saham yang ada. Di bursa saham setidaknya  jenis dan karakteristik sama terbagi dalam beberapa kelompok, ada saham yang disebut dengan saham unggulan atau blue chips stock, ada yang defensive stock dan ada pula yang sahamnya disebut sebagai speculative stock, growth stockserta income stock dan cylical stock.

Saham yang masuk kategori blue chips stock adalah saham yang kapitalisasinya besar (jumlah sahamnya besar). Ditinjau dari industri atau jasa yang diberikan, saham yang masuk kategori blue stock ini adalah perusahaan yang >leader pada industrinya. Untuk mengenal blue chips stock ini relatif mudah, karena di Bursa Efek Indonesia (BEI) investor tinggal melihat saja saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ-45 atau 45 saham likuid.

Sederhananya 45 saham yang masuk kategori likuid sebagaimana indeks LQ-45 itu umumnya adalah saham-saham yang leader pada industrinya, serta memiliki market share dan kapitalisasi pasar yang besar. Untuk saham yang masuk dalam kategori income stock adalah yaitu saham yang membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan tahun-tahun sebelumnya.  Emiten yang bisa melakukan hal demikian adalah emiten yang mampu menghasilkan pendapatan tinggi dan dengan teratur memberikan dividen tunai. Emiten demikian biasanya lebih mengutamakan membagikan keuntungannya sebagai dividen dari pada diendapkan sebagai laba ditahan. 

Sementara itu untuk saham yang masuk kategori  growth stock  atau saham yang tengah mengalami pertumbuhan. Cirinya, saham  saham  yang emitennya merupakan pemimpin dalam industrinya dan secara beruturut-turut beberapa tahun terakhir mampu mendapatkan hasil di atas rata-rata. Saham ini biasanya memiliki P/E rasio tinggi.

Di samping itu emiten saham ini biasanya mempunyai reputasi yang tinggi, dan gaya publisitasnya tampak glamour dalam memperbaiki peningkatan atau penurunan harga saham. Untuk saham yang tergolong speculative stock atau saham spekulasi. Karakteristik saham jenis ini adalah emitennya tidak bisa secara konsisten mendapatkan pendapatan dari tahun ke tahun. Terkadang pendapatannya tinggi terkadang rendah.  Namun demikian emiten ini mempunyai potensi untuk mendapatkan penghasilan yang baik di masa mendatang, meskipun penghasilan itu belum dapat direalisasikan.

Sementara bagi emiten yang ingin membeli saham sesuai dengan pergerakan ekonomi bisa  membeli saham yang disebut dengan cyclical stock atau saham bersiklus. Saham jenis ini perkembangannya mengikuti pergerakan situasi ekonomi makro atau kondisi bisnis secara umum.  Sedangkan lawan dari saham bersiklus adalah jenis saham yang >devensive atau saham bertahan. Kriteria saham bertahan ini adalah saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis pada umumnya.

Pada saat terjadinya resesi, harga saham ini tetap tinggi. Sebab, mampu memberikan dividen yang tinggi, sebagai akibat kemampuan emitennya mendapatkan penghasilan yang tinggi pada kondisi resesi. Saham jenis ini biasanya penerbitnya bergerak dalam industri yang produknya benar-benar dibutuhkan konsumen misalnya perusahaan rokok. Bagaimana pun juga konsumen akan sulit meninggalkan kebutuhan tersebut.

Dengan memahami karakteristik saham ini maka investor lebih mudah  dalam memilih. Sebab, dengan memahami karakteristik saham para investor dapat mengetahui adaptasi saham tersebut dengan pasar. Dan pada gilirannya nanti investor bisa memaksimalkan isi portofolio untuk meraup untung serta meminimalkan risiko. (tim bei)
   
(-)

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *