Gelembung itu pun kempes
Bisnis Indonesia, Senin, 15 September 2008
.
Kondisi bubble atau gelembung di pasar modal Indonesia seperti terbukti. Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia atau BEI yang pada awal tahun ini mencetak posisi tertinggi di 2.800-an, terperosok hingga level 1.800-an.
Bahkan, pada perdagangan Jumat pekan lalu, indeks harga saham gabungan di BEI sempat menyentuh level 1.793, sebelum berakhir pekan di posisi 1.804,06. Sepanjang pekan lalu, penurunan indeks saham harian berkisar di level 3%-an.
Ini berkebalikan dengan perkembangan pada akhir tahun lalu dan awal tahun ini, di mana indeks saham naik secara konsisten dari hari ke hari hingga nyaris saja menuju ke level 3.000. Tak heran, kala itu banyak pihak menilai kenaikan indeks saham sudah seperti gelembung yang mengkhawatirkan, karena tidak disertai perbaikan fundamental perekonomian yang signifikan.
Gelembung itu pun akhirnya kempes. Untung saja gelembung itu tidak meletus mendadak, tetapi gembos perlahan-lahan sejak dua atau tiga bulan terakhir. Perkembangan ini menunjukkan bahwa euforia pasar saham yang kebanyakan ditopang oleh emiten di sektor komoditas, energi dan sumber daya mineral-akibat lonjakan harga komoditas dunia-seolah berbalik arah begitu saja tatkala harga komoditas kemudian melorot tajam.
Kini otoritas di pemerintahan pun sibuk berargumen bahwa kejatuhan pasar saham tidak mencemaskan karena fundamental ekonomi masih kuat, untuk meyakinkan pelaku pasar agar tidak panik.
Imbauan ini dilakukan agar indeks harga saham tidak kian gembos. Namun otoritas ini lupa bahwa tatkala indeks harga saham bergerak naik secara konstan, juga tidak mencerminkan penguatan fundamental ekonomi Indonesia. Vice versa.
Biangnya sebenarnya adalah ulah para manajer investasi dan pengelola hedge fund global, yang selalu menjadi penggerak yang lebih menonjol daripada perubahan fundamental ekonomi di Indonesia. Karena itulah, pasar menjadi sulit diprediksi.
Yang menarik, terdapat gambar yang cukup ganjil, di mana investor lokal yang dinilai sudah semakin educated dalam berinvestasi di pasar modal justru tampak seperti kalap. Selain membanting saham yang mereka koleksi, investor lokal melepas portofolio reksa dana, terutama reksa dana saham, karena khawatir mengalami kerugian lebih dalam.
Akibatnya, banyak investor lokal yang kemudian menjual saham secara paksa karena khawatir terkena margin call yang akan kian menjerat portofolio mereka. Karena itu, pasar saham pun kian terpuruk.
Yang harus dilakukan saat ini sebenarnya adalah menghindari perilaku panik. Dalam konteks ini, investor asing tampaknya jauh lebih jeli melihat keadaan. Mereka agaknya meyakini justru kali ini adalah saatnya mengoleksi saham-saham unggulan mumpung harganya murah.
Data yang ada hingga pekan lalu menunjukkan bahwa portofolio investasi asing di saham Indonesia masih positif US$249 juta, artinya masih lebih banyak yang mengoleksi daripada yang membanting saham. Data itu memberikan gambaran bahwa saham-saham Indonesia masih dibeli oleh investor asing. Di negara-negara Asia lainnya, investor asing sudah net selling atau lebih banyak yang menjual daripada yang membeli.
Dalam situasi seperti ini, kalau otoritas memang berkeinginan melakukan intervensi, seyogianyalah bukan melalui cara-cara persuasi dan imbauan semata. Melalui instrumen atau institusi yang dimiliki, tidak ada salahnya kalau otoritas masuk ke pasar. Bisa jadi, kini adalah saat yang tepat untuk membeli.
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar