Milad ke 65 Tahun, Kebangkitan UII Menuju Good University Governance

Republika, Kamis, 31 Juli 2008

.

YOGYAKARTA  - Tahun 2008 ini perguruan tinggi nasional tertua di Indonesia, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta genap berusia 65 tahun. Di usianya tersebut seiring dengan seratus tahun atau seabad kebangkitan nasional, UII justru telah bangkit menuju good university governance.
Kebangkitan UII di usianya yang ke 65 tahun itupun terlihat dari jumlah animo mahasiswa baru yang justru mengalami kenaikan untuk dua tahun. Padahal sejak lima tahun ini animo mahasiswa baru di sebagian besar perguruan tinggi di tanah air justru mengalami keterpurukan.Karena itulah, tema Milad UII tahun 2008 ini adalah “Revitalisasi nilai-nilai kebangkitan nasional menuju Good University Governance.

Bukan tanpa sebab tema tersebut diambil sebagai nafas perjuangan UII pada masyarakat Indonesia dan dunia tahun ini.Rektor UII, Prof Dr Edy Suandi Hamid mengatakan, sejak dua tahun terakhir jumlah mahasiswa baru yang masuk ke UII mengalami peningkatan 15 persen. Bahkan menurutnya beberapa program studi sudah menutup pendaftaran bagi para calon mahasiswa barunya, seperti Fakultas Tehnik Industri dan Fakultas Kedokteran. Karena itulah kata dia, tahun ini merupakan titik kebangkitan UII agar tetap menjadi rahmatan lil alamin dalam melakukan tugas sebagai perguruan tinggi sesuai dengan visi dan misinya. ‘’Kita ingin UII sebagai perguruan tinggi tertua tidak hanya tertua tetapi mampu memberikan sumbangsih yang nyata bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara. Selain itu kita ingin UII menjadi pioneer dalam mewujudkan perguruan tinggi yang transparan dan akuntabel,” terang Prof. Edy.

.

Rencana dan Strategi UII

.

Untuk mewujudkan good university governance itupun, UII telah memiliki rencana strategis (renstra) selama empat tahun dari 2006 hingga 2010 mendatang. Dalam Renstra tersebut UII ingin menyempurnakan teaching university sebagai bahan pijakan menuju research university. Beberapa langkah dilakukan UII untuk mewujudkan hal tersebut. Langkah itu antara lain peningkatan kualitas dan relevansi akademik untuk memperoleh tambahan animo mahasiswa baru. Peningkatan itupun dilakukan salah satunya dengan masuknya UII dalam 50 perguruan tinggi di Indonesia yang terakreditasi dari 2.700 PT yang ada. Bahkan komposisi tenaga pengajar lulusaan S2 dan S3 yang ada di UII berada di atas rata-rata nasional.

Sistem seleksi masuk yang dilakukan UII juga dicapai dengan tiga jalur yaitu Paper Based Test (PBT), Computer Based Test (CBT) dan Penerimaan Siswa Berprestasi (PBB). Dalam seleksinya tahun 2008/2009 ini, jumlah calon mahasiswa yang mendaftarkan diri ke UII meningkat. Jika tahun akademik 2007/2008 jumlah pendaftar ke UII hanya 8.747 orang, tahun akademik 2008/2009 meningkat menjadi 9.248 orang. Peningkatan itu salah satunya didorong dengan adanya seleksi CBT di 26 kota di Indonesia dari 20 kota tahun sebelumnya. Kota-kota tersebut antara lain, Yogyakarta, Cirebon, Madiun, Bengkulu, Jambi, Makasar, Pontianak, Palembang, Salatiga, Klaten, Serang Banten, Kudus, Balikpapan, Temanggung dan Banjarnegara.

Selain itu juga di Kebumen, Tegal, Bandar Lampung, Medan, Banjarmasin, Mataram, Cilacap, Magelang, Tasikmalaya, Kediri dan Purworejo. Peningkatan kualitas akademik UII sendiri telah dilakukan secara terstruktur dan bertahap sejak tahun 1999 seiring dengan dibentuknya Badan Penjaminan Mutu UII (awalnya bernama Badan Kendali Mutu dan Pengembangan Pendidikan)’ ‘Kita termasuk perguruan tinggi yang paling awal memiliki lembaga penjaminan mutu. Bahkan sebelum pemerintah mengeluarkan penjaminan mutu kita sudah memiliki lembaga tersebut,” tambah Edy. Lembaga itulah yang menurutnya melakukan quality insurance terhadap sistem pendidikan dan pengajaran di UII. Hal tersebut juga menjadi modal UII untuk menapakkan diri di kancah internasional karena berbagai standar pendidikan dan manajemen telah diterapkan UII melalui pengawasan lembaga tersebut.

.

Go International

.

Di kancah internasional, nama UII nampaknya bukan sebuah nama yang asing lagi. Beberapa perguruan tinggi di belahan dunia telah meneken kerjasama baik di bidang penelitian, pengajaran maupun pengabdian masyarakat dengan pergu ruan tinggi Islam tertua di Indonesia ini. Bahkan Selasa (29/7) ini, Prof Edy Suandi Hamid baru saja menandatangani nota kerjasama dengan Universiti Sains Malaysia bersama 20 PT lain di dunia. Selain itu juga kerjasama dengan Murdoch University untuk mewujudkan program dual degree Fakultas Tehnik Informatika dan internship Fakultas Kedokteran UII dengan PT tersebut.

Selain itu kerjasama lain juga telah dijalin dengan The University of Wolongong, Monash University, serta Pai Chai University dan Dromana and Morningtoin Secondary College untuk melakukan field study bagi mahasiswa D3. UII juga merintis kerjasama dengan AIT Thailand di bidang riset serta Curtin University of Technology Australia untuk dual degree FTI. UII menurut Edy, juga aktif dalam berbagai kegiatan internasional di bidang keislaman seperti melalui World Muslim League (WML), Federation of The Universities of The Islamic World (FUIW) dan beberapa organisasi lainnya. Langkah kedua untuk mewujudkan Renstra UII adalah peningkatan kualitas dan relevan di penelitian untuk menyiapkan landasan bagi UII menuju research university. Langkah itu dilakukan agar UII semakin memiliki kiprah besar dalam pengembangan manfaat ilmu pengetahuan serta peningkatan hasil penelitian bagi kebutuhan stakeholders.

Terkait hal itupun UII telah membentuk iklim agar para staf pengajar yang sebagian besar berusia muda tersebut memiliki kemampuan untuk meraih berbagai hibah penelitian baik dari Departemen Pendidikan maupun dari Luar Negeri. Hasilnya tahun 2007/2008 lalu sedikitnya ada 49 dana hibah bersaing yang berhasil diraih dosen UII baik dari kementrian Riset dan Tehnologi (Ristek), Depdiknas maupun dari luar negeri. Berdasarkan data, ada 8 hibah Riset Unggulan Terbatas dari Kementrian Ristek yang diraih UII, 4 hibah penelitian dasar, delapan hibah bersaing, tiga hibah pekerti, 24 hibah dosen muda, 1 hibah kajian wanita dari Dikti Depdiknas serta satu hibah dari luar negeri. Peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian itupun terus diupayakan melalui penelitian berdasarkan visi dan misi UII melalui pendekatan green urbanization dan pengembangan penelitian melalui kerjasama dengan lembaga/ instansi/ badan pemeirntah maupun swasta.
Langkah ketiga mewujudkan Renstra UII, adalah peningkatan kualitas dan pemanfaatan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan tanggungjawab sosial UII (Coorporate Social Responsibitlity). UII menyadari bahwa pengabdian masyarakat adalah sebuah bentuk dari pengejawantahan visi dan misi perguruan tinggi. Karenanya UII terus melakukan peningkatan pemberdayaan masyarakat, hubungan komunikasi masyarakat, serta advokasi dan pendampingan masalah bagi masyarakat. Pengabdian masyarakat itupun diwujudkan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang saat ini diarahkan ke program KKN Tematik yaitu KKN yang digelar sesuai kebutuhan masyarakat. Sedangkan untuk pendampingan penyelesaian masalah masyarakat, UII telah menggelar focus group discussion di Kabupaten Gunungkidul, Sleman, Kulonprogo, Bantul dan Kota Yogyakarta.

Sedangkan langkah keempat untuk mewujudkan renstra UII sendiri dilakukan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas dakwah Islamiyah untuk mewujudkan UII sebagai kontributor pemikiran ke-Islaman. Sebagai perguruan tinggi yang menganut catur dharma, maka pengembangan ke-Islaman melalui dakwah merupakan tanggungjawab tersendiri bagi perguruan tinggi Islam tertua di Indonesia ini. Karenanya, sejak beberapa tahun terakhir UII terus melakukan pengembangan iklim kehidupan keIslaman di kampus tersebut.Langkah itupun dilakukan dengan jalan penyempurnaan mata kuliah keagamaan, membekali mahasiswa dengan Orientasi Nilai Dasar Islam dan Latihan Kepemimpinan Islam, pengajian, training seminar dan workshop.

Selain itu, juga melalui penilaian kinerja pengajar mata kuliah agama serta dialog kebudayaan. Pembinaan dakwah Islamiyah di UII bukan hanya dilakukan dalam internal kampus semata. Bahkan dalam dakwah inipun UII telah memiliki beberapa desa binaan dan masjid binaan. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dakwah itupun dalam unsur penilaian kepangkatan staf pengajar, UII juga men syaratkan adanya dakwah yang dilakukan staf pengajar tersebut. ‘’Staf pengajar tidak bisa naik pangkat jika belum melakukan dakwah di luar,” tandas Edy. Melalui langkah-langkah tersebut diiringi dengan perubahan paradigma civitas akademika UII dari paradigma bekerja selesai saja menjadi bekerja untuk hasil terbaik, Prof Edy Suandi Hamid, yakin UII di usianya yang 65 akan semakin berkibar dan menjadi perguruan tinggi yang tangguh di Indonesia.
 

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments

Saya hanya berpesan niat UII yang akan go international itu jangan hanya lips service kayak jurkam2 parpol pas mau pemilu aja, tapi coba buktikan bahwa UII bisa disejajarkan dengan Harvard University, MIT, Aachen Universteit, Utrech Universteit ataupun universitas2 kelas dunia lainnya

Tinggalkan komentar

(wajib)

(wajib)