MENUNGGU KEBANGKITAN KEMBALI - Bursa Saham Indonesia

Republika,  24 Juli 2008

Meski sempat terkapar hingga mencapai level terendah tahun ini, pemerintah merasa tak perlu melakukan intervensi.
   
Indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan lalu terus mengalami tekanan, sehingga membuat rekor indeks terendah sepanjang 2008 hanya dalam dua hari berturut-turut. Penyebabnya, situasi global dan regional yang dilanda kecemasan akibat ancaman krisis energi dan pangan. Bursa saham global dan regional pekan lalu terpuruk dan telah menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI anjlok 2,27 persen pada Kamis (17/7) ke level terendah 2.167. Namun hari berikutnya, pada penutupan perdagangan akhir pekan IHSG kembali anjlok 1,23 persen ke level 2.141, terendah sepanjang tahun ini. Karenanya, mencegah jatuhnya indeks saham semakin dalam. Menkeu Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, dalam situasi pasar dunia yang sedang bearish (turun), pemerintah tak harus mengambil kebijakan insentif pasar modal.

Bagi pemerintah yang paling penting membuat seluruh kebijakan yang lebih menyentuh pasar modal dan menegakkan aturan yang ada. ”Tapi dinamika market-nya sendiri tidak perlu diintervensi karena nanti tidak mencerminkan riil supply demand dari saham itu,” kata Sri Mulyani, Sabtu (19/7). Sri Mulyani mengingatkan, ketika indeks saham mengalami bullish, naik terus, tidak ada yang meminta pemerintah mengambil kebijakan. Justru saat indeks naik tajam itu, investor bisa menilai apakah kenaikan itu memang sesuai fundamental perusahaan atau tidak. Dinamika harga saham, lanjut Menkeu, menggambarkan prospek terhadap perekonomian yang akan mempengaruhi fundamental sektor masingmasing industri. Naiknya harga komoditas dan tambang membuat saham perusahaan komoditas dan tambang juga ikut naik. Namun ketika ekonomi global turun dan harga minyak mulai melunak, terjadi koreksi juga terhadap harga komoditas dan tambang.
Diakui, turunnya indeks saham memang membuat beberapa perusahaan mnejadwal ulang rencana masuk bursa. Sri Mulyani berharap kondisi ini tidak akan berlangsung lama sehingga rencana ekspansi perusahaan dengan menerbitkan saham ataupun obligasi bisa kembali berjalan. Memang, sepanjang tahun ini seluruh bursa regional rata-rata memang mengalami koreksi sekiatr 20 persen. Diukur dari awal tahun, IHSG sudah terkoreksi 21 persen dan bursa Singapura anjlok 22 persen. Sementara bursa beberapa negara seperti Vietnam dan Shanghai terkoreksi lebih dalam. ”Shanghai turun sampai 52 persen, kenapa? Karena selama ini Shanghai yang naik paling tinggi,” kata Sri Mulyani.

Anjloknya indeks saham sampai 20 persen telah membuat investor ritel pasar modal mengalami kerugian. Alex, seorang investor ritel mengaku portofolio sahamnya hampir tinggal separuh, dari Rp 200 juta menjadi Rp 110 juta. Tahun 2007 lalu, saat indeks naik hampir 50 persen, tiap bulan Alex mengaku bisa meraup Rp 10-15 juta per bulan. ”Tapi sekarang cari duit susah,” kata Alex. Namun, harapan akan selalu ada. Kondisi pasar modal global dan regional yang serba tak menentu masih akan menghantui pasar modal Indonesia.
Namun indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berpotensi rebound karena harga saham unggulan di sektor energi yang tercermin dari price to earning ratio (P/E) sudah rendah seiring jatuhnya indeks. Dirut BEI, Erry Firmansyah, mengatakan, tahun lalu sektor energi dan telekomunikasi mendorong kenaikan IHSG hingga 50 persen. ”Investor akan menghitung kembali berapa P/E ratarata saham sektor energi. Mereka akan adjustment. Kalau harga terlihat murah, mereka pasti akan masuk lagi,” kata Erry, Jumat (18/7). Sekadar informasi, penurunan IHSG pekan kemarin juga didorong jatuhnya harga saham dua emiten terbesar yaitu PT Bumi Resources Tbk dan PT Telkom Tbk. Turunnya harga minyak dunia turut mengoreksi harga batu bara.

Erry mengingatkan, kontrak minyak dunia hingga 2011 masih di atas 110 dolar AS per barel. Sehingga pelaku pasar tak perlu khawatir akan terjadi penurunan harga komoditas terutama batu bara, yang selama ini ikut terkerek kenaikan harga minyak dunia. Namun Erry mengakui, IHSG mungkin tak akan naik setinggi tahun lalu. ”Bursa masih akan sulit berkembang. Kalau indeks bisa 2.700 seperti awal tahun itu sudah bagus,” ujarnya. Padahal BEI pada awal tahun lalu masih optimistis IHSG sampai akhir 2008 bisa naik 20-30 persen.

Para analis sebelumnya masih optimistis IHSG bisa menembus level 3.0003.200 poin sampai akhir tahun. IHSG akhir 2007 tercatat 2.745 sehingga hingga pertengahan Juli 2008 ini IHSG sudah terpangkas 21 persen. Namun Erry mengingatkan, kondisi pasar modal Indonesia sebenarnya masih lumayan dibanding bursa regional. ”Bursa Cina saja drop 50 persen, India turun 30 persen, Hong Kong turun 34 persen. Ekonomi global memang lagi nggak bagus,” kata Erry.
Selain perubahan target IHSG, BEI juga akan merevisi target obligasi yang bisa masuk pasar modal tahun ini. Pada awal tahun, BEI menargetkan jumlah nilai obligasi hingga akhir 2008 sekitar Rp 48 triliun. Hingga pertengahan tahun ini, dana obligasi yang sudah terhimpun sebanyak Rp 25 triliun. ”Hasil revisi tersebut akan selesai dalam satu sampai dua bulan ke depan,” kata Erry.

Menurut Erry, tingginya suku bunga yang harus ditawarkan perusahaan membuat banyak perusahaan mengurungkan niat untuk menerbitkan obligasi. Misalnya PT Indofood Sukses makmur Tbk yang membatalkan penerbitan obligasi Rp 1,5 triliun dan memilih untuk mengambil pinjaman perbankan yang bunganya lebih murah. Namun untuk target jumlah emiten baru, BEI masih optimistis mampu memenuhi target 30 perusahaan lagi yang go public. Sampai bulan Juli, sudah ada 16 emiten baru di BEI. ‘Sudah ada enam perusahaan yang tengah melengkapi persyaratan initial public offering (IPO), sehingga tinggal delapan perusahaan lagi dan kami opti mistis masih dapat mengejar target itu,” ujar Erry. Namun belum ada perusahaan BUMN yang menyatakan kesiapannya untuk go public kepada BEI.
Komentar agak berbeda dikemukakan Direktur Pencatatan BEI, MS Sembiring. Ia menyatakan, sebenarnya BEI memang tidak bisa menargetkan level IHSG pada akhir tahun. Yang ada dalam kemampuan BEI, adalah menargetkan jumlah emiten baru sehingga BEI bisa bekerja keras untuk menjaring emiten. ”Sampai saat ini baru ada 397 emiten di bursa, berarti masih ada potensi yang sangat besar. Yang jelas dari tahun ke tahun jumlah emiten dan investor pasar modal terus bertambah, walau pelan,” kata Sembiring. Dia juga menambahkan, dibandingkan bursa saham lain, kinerja BEI selama lima tahun ini jauh lebih bagus. Sejak 2002 sampai 2008 ini, posisi IHSG sudah naik 431 persen. Bursa Bombai (BSE) juga masih kalah (BSE hanya naik 294 persen sejak 2002). Bahkan bursa Shanghai (SSE) yang selama ini disebutsebut fenomenal, pada periode yang sama cuma naik 136 persen. ¦ rto/end

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar

(wajib)

(wajib)