Mendung payungi industri pakan ternak (Bag. 1 dari 2 tulisan)
Bisnis Indonesia, Selasa, 14 Juli 2008
Industri pakan ternak merupakan bisnis yang lumayan menjanjikan. Itu tergambar dari pelaku di dalam industri itu, banyak dan beragam. Charoen Pokphand, Sierad, Java Comfied, Wonokoyo, Agro Cipta Karya, Allied Feeds Indonesia, Arta Citra Terpadu Feedmill, Asia Enteprise.
Ada lagi PT Beta Raya Indonesia, PT Bintang Terang Gemilang#, Bumindo Jaya Mandiri, Cargill Indonesia, Central Pangan Pertiwi, Central Pertiwi. Kalau ditotal, jumlahnya ada 81 perusahaan.
Terbayangkah oleh kita dampak yang terjadi jika industri ini hancur karena kebijakan main-main oleh otoritas di bidang ini?
Belum lama ini, industri pakan ternak dililit persoalan surat persetujuan pemasukan (SPP) bahan baku pakan ternak. Akibat surat yang tak kunjung selesai di Departemen Pertanian, ratusan peti kemas berisi bahan baku pakan tertahan di pelabuhan. Ada yang sudah kena biaya kelebihan waktu berlabuh (demurrage charge).
Dampak kisruh persoalan SPP terhadap industri ini adalah tambahan demurrage charge sekitar Rp5,3 miliar, masih ditambah lagi kenaikan harga raw-mix karena terpaksa menggantikan bahan meat bone meal (MBM) yang kurang dengan bahan lain seperti soya bean meal (SBM) yang lebih mahal. Juga menyebabkan kesulitan kontinuitas proses produksi.
Semua tambahan biaya tersebut akhirnya menjadi beban peternak dan konsumen daging dan telur.
Beberapa waktu lalu, bangsa ini sempat begitu gembira, khususnya shareholders di industri ini. Pasalnya, pemerintah menilai pentingnya posisi industri itu.
Dalam rangka meningkatkan daya saing industri dan usaha peternakan di Tanah Air, pemerintah melakukan revisi perpajakan. Kebijakan tersebut di antaranya mengkaji keberadaan pajak pertambahan nilai (PPN) pakan ternak dan bea masuk produk yang terkait, seperti obat-obatan dan vitamin bagi unggas. Tim yang mengkaji ingin tarif ini dibebaskan agar tidak menjadi beban bagi industri dalam negeri.
Bagi kalangan industri ini, yang direpresentasikan melalui asosiasi-seperti Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (Gappi)-berbisnis bukan meminta belas kasihan. Toh, bisnis yang digeluti, dilakukan sendiri.
Pemerintah -sebagai fasilitator dan regulator– diminta tidak berpihak, fairplay. Termasuk saat menghadapi kesulitan akibat digempur pasar yang turun karena flu burung, daya beli rendah atau kenaikan harga komoditas yang menjadi bahan baku a.l. jagung.
Mereka harus pintar mengatur ’stamina’ agar eksistensi mereka tidak tergerus.
Mereka pun tidak meminta pengakuan, kendati banyak aspek positif. Terutama peran mereka dalam pembangunan ekonomi negeri ini. Misalnya, ketika Anda bertanya, berapa nilai bisnis pakan Indonesia saat ini?
Jawabnya, total penjualan pakan nasional pada 2008, sekitar Rp32 triliun per tahun. Atau bertanya, berapa target produksi pakan dan apa alasan target itu? Perkiraan konsumsi pakan tahun ini sekitar delapan juta ton per tahun, meningkat sekitar 5%.
Alasannya, konsumsi daging ayam dan telur masih me-ningkat meski agak lambat sehubungan dengan masih terjadinya urbanisasi ke kota-kota besar, peningkatan konsumsi di luar Jawa yang pertumbuhan ekonominya baik karena hasil perkebunan dan tambang yang menguntungkan, terjadi substitusi konsumsi daging sapi dan ikan yang semakin mahal. (martin.sihombing@bisnis.co.id)
.
Oleh Martin Sihombing
Wartawan Bisnis Indonesia
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

saya ingin menjadi penjual pakan ternak, kemana saya harus membeli pakan ternak untuk dijual lagi, mohon jawabannya ke e-mail saya, trimakasih