Kebijakan industri bagi usaha kecil
Bisnis Indonesia, Edisi: 01-FEB-2008
Kenaikan harga kedelai sampai 100% menyebabkan perajin tempe dan tahu mengalami kesulitan produksi. Hal ini, memicu demo dari para perajin tempe dan tahu di Jakarta yang tergabung dalam Primkopti pada 14 Januari lalu.
Tiga bulan yang … lalu, harga kedelai hanya Rp3.500 per kilogram, tetapi saat ini terjadi lonjakan harga menjadi Rp7.350-Rp7.800 per kilogram. Pembuat roti dan makanan juga mengalami hal yang sama karena tepung terigu mengalami kenaikan harga drastis. Bulan Desember lalu, harga tepung terigu Rp106.000 per karung, tetapi saat ini naik menjadi Rp149.000 per karung.
Usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) rentan terhadap ketidakstabilan rantai pasok (supply chain) baik pada aspek bahan baku maupun pasar. UMKM juga sensitif terhadap perubahan harga bahan baku.
Industri kecil-menengah (IKM) seperti tempe-tahu dan roti mempunyai ciri khusus yaitu biaya produksi sebagian besar biaya produksi adalah untuk bahan baku. Hal ini tidak menjadi masalah, apabila bahan baku bisa dipenuhi dari dalam negeri.
Masalah yang terjadi dalam IKM tahu dan tempe dan industri makanan berbasis tepung terigu sedikit berbeda, meskipun sama-sama mengalami kenaikan bahan baku.
Kenaikan harga kedelai terjadi karena perubahan iklim di negara produsen kedelai yaitu Amerika Serikat. Selama ini kebutuhan kedelai di Indonesia banyak didapatkan dari impor.
Data dari Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan menunjukkan kebutuhan kedelai untuk industri tempe dan tahu di Indonesia per tahun mencapai 1,9 juta ton. Dari jumlah itu, sebesar 1,3 juta ton dipenuhi dari impor.
Target produksi kedelai lokal Indonesia, tahun 2007 sebesar 950.000 ton, dari jumlah tersebut hanya tercapai realisasi sebesar 620.000 ton. Penyebabnya adalah para petani enggan menanam komoditas ini, karena tiga bulan yang lalu harganya tidak kompetitif dibandingkan dengan komoditas jagung atau beras. Solusi sementara yang dilakukan pemerintah adalah memberlakukan tarif bea masuk Rp0 untuk komoditas kedelai impor.
Kenaikan harga tepung terigu dari Rp106.000 menjadi Rp149.000 per 25 kilogram terjadi karena adanya pengenaan PPN dan bea masuk. Hal ini mengakibatkan harga di tingkat konsumen mengalami kenaikan.
Usulan para pengusaha juga agar bea masuk dan PPN tepung terigu dihilangkan. Padahal, pendapatan pemerintah dari PPN tepung terigu sebesar Rp185 miliar. Pendapatan sebesar ini bisa menghambat keputusan pengurangan bea masuk dan PPN bagi tepung terigu.
Kebijakan industri
Masalah yang terjadi pada industri kecil menengah (IKM) tahu dan tempe serta industri makanan berbasis tepung terigu ini menunjukkan lemahnya posisi tawar menawar IKM dalam sebuah rantai pasok (supply chain). Jaminan ketersediaan bahan baku dan masalah pemasaran selalu menjadi ganjalan perkembangan IKM nasional.
IKM tahu dan tempe dengan produk khas yang sudah dianggap makanan tradisional ternyata mempunyai kandungan impor tinggi sehingga rentan terhadap perubahan harga bahan baku. Industri berbasis tepung terigu dengan produk turunan berupa roti dan mi juga mempunyai masalah yang sama yaitu ketersediaan bahan baku.
Sebuah kebijakan industri yang baik adalah mempunyai rantai pasok (supply chain) yang sempurna. Maksudnya industri ini bisa dianalisis dan diantisipasi potensi masalah dari hulu sampai hilir. Rerangka supply chain management biasanya dipergunakan untuk menganalisis mata rantai sebuah industri.
Menurut Schroeder (2000), manajemen rantai pasok adalah perencanaan, desain dan kontrol aliran informasi dan material dalam sebuah rantai pasok untuk memenuhi kebutuhan sekarang dan masa yang akan datang secara efisien.
Dalam analisis ini, sebuah industri harus dianalisis mulai dari ketersediaan bahan baku, termasuk siapa pemasoknya dan di tingkatan harga berapa serta berapa jumlah yang dibutuhkan, proses produksi dan jumlah produsennya, rantai distribusinya dan terakhir adalah konsumennya. Manajemen rantai pasok ini selanjutnya memberikan informasi bagi penyusunan sebuah desain kebijakan industri secara mendetail.
Analisis lanjutan setelah manajemen rantai pasok adalah value chain analysis. Porter (1985;1990) menyatakan analisis value chain ini adalah bisa memberikan informasi mata rantai industri mana yang paling bernilai dari sebuah manajemen rantai pasok. Selain itu value chain analysis juga memberikan informasi tentang titik kritis dari masing-masing bagian rantai pasok itu.
Berdasarkan dua analisis itu bisa disusun sebuah desain industri yang lengkap. Idealnya langkah seperti inilah yang dilakukan pemerintah bagi setiap industri terutama IKM. Hal ini untuk mengantisipasi munculnya masalah-masalah yang bisa mengganggu proses produksi dan pemasaran.
Implikasi
Solusi jangka pendek dari masalah dalam IKM tahu-tempe dan industri makanan berbasis tepung terigu adalah pembebasan bea impor dan PPN. Namun, masalah utama dari kedua industri itu adalah ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Masalah ini menuntut penyelesaian yang komprehensif. Sebagai contoh fakta bahwa langkanya kedelai lokal terjadi karena petani Indonesia menganggap kedelai bukan merupakan komoditas favorit. Ada baiknya pemerintah memberlakukan kebijakan harga pada komoditas kedelai dan memberdayakan lagi Primkopti.
Hal yang sama juga berlaku bagi industri makanan berbasis tepung terigu. Khusus untuk komoditas ini memang tanah di Indonesia bukan lahan yang baik untuk menanam gandum sehingga pengaturan harga impor dengan pembebasan bea masuk lebih masuk akal.
Pelajaran dari masalah ini adalah kebijakan industri adalah hal yang mutlak diperlukan. Pemerintah harus mempunyai grand design industri dengan mengarahkan pengembangan industri dengan sasaran yang terukur.
Pemerintah tidak bisa hanya reaktif, memikirkan solusi pada saat masalah muncul. Jika itu yang terus dilakukan, kita akan kehilangan kesempatan untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
Oleh Anton A. Setyawan
Dosen Fak. Ekonomi Univ Muhammadiyah Surakarta
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Salam hangat,
Kami dari PINBOO Bandung,
bergerak dibidang aksesoris pin/bros (pin bulat dan gantungan kunci).
produksi pin/bros (pin bulat dan gantungan kunci),
Apabila perusahaan bpk/ibu memerlukan merchandise menunjang kegiatan perusahaan bpk/ibu dalam melakukan branding ataupun event-event tertentu. Kami dapat membantu bpk/ibu dengan baik dan cepat..
Terimakasih
http://www.pinboo.org