Investasi bagi pertumbuhan berkelanjutan

Bisnis Indonesia, Selasa, 18 Desember 2007

Investasi bagi pertumbuhan berkelanjutan

Menarik aliran modal untuk menggerakkan sektor riil merupakan salah satu agenda pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hal ini penting mengingat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi rata-rata … 6,3% per tahun diperlukan investasi agregat sedikitnya Rp986 triliun.

Berbagai kebijakan telah diluncurkan, antara lain Inpres No. 3/2006 tentang paket kebijakan iklim investasi, penyederhanaan prosedur registrasi, dan berbagai insentif pendorong investasi lainnya. Kebijakan untuk mendorong terbentuknya iklim investasi yang kondusif tersebut mulai membuahkan hasil.

Mengacu pada laporan BKPM, hingga Oktober 2007, realisasi penanaman modal Indonesia naik cukup signifikan dibandingkan dengan 2006. Pada periode itu, realisasi investasi PMDN sebesar Rp32,98 triliun naik 143,59% dibandingkan dengan periode yang sama 2006 yang sebesar Rp13,54 triliun. Sementara itu, realisasi investasi PMA naik 102,64% dari US$4,48 miliar pada 2006 menjadi US$9,02 miliar.

Mengapa investasi penting?

Pada umumnya para ekonom bersepakat tingkat investasi berkorelasi positif dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Secara sederhana, tingkat investasi yang tinggi akan meningkatkan kapasitas produksi, yang pada akhirnya berujung pada pembukaan lapangan kerja baru. Dengan begitu, tingkat pengangguran bisa direduksi dan pendapatan masyarakat pun meningkat. Adanya investasi juga memungkinkan terjadinya transfer teknologi dan pengetahuan (knowledge) dari negara maju ke negara berkembang.

Kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi bisa dilihat dari sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, peningkatan investasi akan menstimulasi pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan permintaan yang efektif.
Total permintaan efektif sendiri terdiri dari konsumsi, investasi domestik kotor, dan net ekspor. Kontribusi ketiga variabel tersebut terhadap pertumbuhan dapat diukur dari rasio peningkatan faktor-faktor tersebut terhadap peningkatan pengeluaran national kotor riil (real gross national expenditure (GNE)).
Dari sisi penawaran, peningkatan investasi akan merangsang pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan lebih banyak cadangan modal yang kemudian berkembang dalam bentuk peningkatan kapasitas produksi. Kontribusi tersebut akan bergantung pada proporsi pendapatan nasional yang diinvestasikan (tingkat investasi) dan peningkatan rasio output terhadap modal (efisiensi investasi).

Belajar dari China dan India

Kinerja ekonomi China dan India selama dekade terakhir telah menjadi kajian menarik. Pertumbuhan ekonomi China meningkat dari 5%-6% pada 1949-1978 menjadi sekitar 10% selama 1980-2004. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi India juga melompat dari 3% selama 1950-1979 menjadi 5%-6% sepanjang 1980-2004.
Tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi di kedua negara tersebut antara lain didorong tingkat investasi yang tinggi dan berkelanjutan. Menariknya, kedua negara tersebut sama-sama pernah mengadopsi paradigma pembangunan Feldman yang dipinjam dari Uni Sovyet.

Strategi tersebut berisi dua hal utama, yakni perencanaan terpusat dan industrialisasi yang cepat. Langkah yang dilakukan dalam strategi ini adalah dengan menekankan rasio alokasi investasi pada pembangunan sektor alat berat.

Logikanya sederhana, dengan mesin akan bisa memproduksi banyak mesin. Pada tingkat percepatan ekonomi, mesin-mesin yang dihasilkan tersebut akan bisa menumbuhkan industri hilir. Hal ini tidak hanya akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang tetapi juga akan menggerakkan tingkat konsumsi optimal bagi keseluruhan penduduk.

Pada tahapan berikutnya, paradigma Feldman tersebut dimodifikasi sesuai dengan kondisi lokal. Penekanan strategi pembangunan, sebelum menuju industrialisasi, diarahkan pada pembangunan sektor pertanian.

Mengacu pada penelitian Chay dan Roy (2006), pertumbuhan ekonomi China yang didorong tingkat investasi yang tinggi berjalan melalui dua cara. Pertama, tingkat investasi yang tinggi berdampak pada peningkatan permintaan efektif. Dalam dua periode, pre dan pascareformasi, investasi berkontribusi 33%-50% dari total PDB China.

Kedua, tingginya tingkat investasi berdampak pada peningkatan cadangan modal dan oleh karena itu kapasitas produksi juga meningkat. Tingkat pertumbuhan ekonomi adalah hasil dari tingkat investasi dan kenaikan rasio output terhadap modal.

Bila dibandingkan dengan negara lain, misalnya Jepang atau negara berkembang lainnya, pada periode pembangunan yang sama tingkat investasi di China lebih tinggi. Akan tetapi di sisi lain, tingkat efisiensinya lebih rendah.

Hal ini mengindikasikan pertumbuhan ekonomi China selama beberapa dekade terakhir terjadi terutama karena tingkat investasi yang tinggi. Rasio efisiensi investasi yang rendah lebih disebabkan oleh struktur investasi yang lebih terkonsentrasi pada persediaan, industri berat, dan konstruksi tersier.

Hal ini juga sebagian karena faktor sistemik, yaitu adanya sentralisasi kebijakan investasi. Terbukti setelah reformasi 1979 yang mendesentralisasikan kebijakan investasi berhasil secara signifikan meningkatkan tingkat efisiensi investasi.

Pembiayaan investasi di China merupakan satu contoh yang unik. Berbeda dengan negara lain termasuk Indonesia yang lebih banyak ditopang penanaman modal asing, investasi China lebih banyak dibiayai dari tabungan.

Bagaimana dengan India? Tingkat investasi di India tidak seimpresif China. Hal ini lebih karena tingkat tabungan yang moderat.
Selain itu, faktor sosio-politik juga kurang bisa mendorong iklim investasi yang kondusif. Di China, Taiwan, Singapura, dan Hong Kong, sistem pemerintahan yang totaliter dan semitotaliter serta budaya konfusianisme, juga berperan dalam meningkatkan tabungan dan investasi.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir India juga mulai berbenah. Kebijakan desentralisasi investasi telah berhasil membangun berbagai infrastruktur yang mendorong banyaknya aliran investasi masuk ke negara tersebut, terutama pada sektor teknologi informasi dan bisnis alih daya.

Potensi Indonesia

Potensi ekonomi Indonesia untuk sejajar dengan China dan India sangat terbuka. Selain populasi penduduk, ada beberapa kesamaan lain yang berpotensi dalam meningkatkan pertumbuhan.

Populasi yang besar bisa berarti kecukupan tingkat tenaga kerja dan juga pasar konsumen yang besar. Sayangnya, dari lima besar negara dengan populasi terbesar di dunia, hanya Indonesia yang kinerja ekonominya lambat. Berbeda dengan China, India, dan Brasil, Indonesia lebih banyak disibukkan transisi demokrasi yang fluktuatif. Sejak orde reformasi bergulir, hanya dua tahun terakhir inilah kondisi politik mulai stabil. Stabilitas sosio-politik ini penting bagi terciptanya iklim investasi yang kondusif.
Iklim investasi yang kondusif mesti mencakup dua dimensi, yaitu tingkat biaya dan tingkat pengembalian (return) yang kompetitif, dan tingkat risiko yang bisa dikelola.

Faktor-faktor tersebut memiliki dampak ganda, yaitu bagi aliran investasi ataupun bagi daya kompetensi industri lokal. Dengan begitu tidak hanya di sektor sumber daya alam seperti pertambangan migas yang berjaya, tetapi juga disektor nonsumber daya lainnya seperti manufaktur, industri konsumsi rumah tangga, tekstil dan pariwisata juga bisa lebih dioptimalkan. (rofikoh.rokhim@bisnis.co.id)

Oleh Rofikoh Rokhim
Ekonom Bisnis Indonesia

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments

ko gak ada jurnal ekonomi pembangunan?, klo ada tlg beri tau y

ma kasih atas artikel mu yang sekarang aku pegan sebagai referensia saya di universitas Nasional Timor Leste Fakultas ekonomi di negri tercinta ku Timor -Leste .

By…..by..by Obrigado .

Tinggalkan komentar

(wajib)

(wajib)