Jalan Keluar Terhadap Kesulitan Para Nelayan di Banten

Pernahkah kita memahami bahwa nelayan yang hanya bermodalkan perahu motor kecil saat ini menjadi sangat tidak berdaya dalam menghadapi kapal penangkap ikan pukat harimau. Terlebih kenaikan bahan bakar solar juga membuat ongkos berlayar menjadi berlipat ganda. Kesulitan lain yang tidak … kalah pentingnya, jika tidak mau dikatakan sangat mendasar, adalah pemasaran ikan hasil tangkapan mereka yang amat sangat bergantung pada para tengkulak.

Dalam menghadapi persoalan ini, pertama para nelayan melalui koperasi nelayan bekerja sama dengan para profesional dan pemerintah daerah mendirikan perusahaan yang mengkhususkan pada kegiatan penyediaan peralatan dan bahan bakar untuk melaut, pengolahan, pengemasan, distribusi, dan pemasaran hasil laut. Disamping itu perusahaan dimaksud juga dapat memberikan jasa manajemen, pembiayaan, riset dan pengembangan, serta pelatihan. Sehingga dengan demikian, para nelayan tersebut dapat lebih memfokuskan pada produksi penangkapan ikan laut dengan volume dan kualitas yang semakin baik. Perusahaan tersebut pada saatnya nanti dapat mencari pendanaan melalui pasar modal.

Langkah kedua, perlu kiranya ada pengaturan sekaligus pengawasan dan penegakkannya dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah terhadap daerah operasi kapal penangkap ikan pukat harimau agar mereka tidak melanggar masuk ke daerah penangkapan nelayan kecil.

Langkah ketiga, seperti diketahui Pemerintah sudah mencanangkan wajib belajar 9 tahun. Artinya, kegiatan pendidikan sampai dengan SMP telah dibiayai oleh APBN. Dalam hal ini, tugas Pemda wajib untuk mendorong masyarakat paling sedikit mereka berpendidikan sampai sekolah menengah atas. Berkaitan dengan ini, Pemda perlu berinisiatif untuk menanggung pembiayaan pendidikan menengah kejuruan, misalnya pendidikan sekolah menengah kejuruan tehnik perikanan. Jika belum mampu menyediakannya melalui APBD, Pemda dapat bersinergi dengan dunia usaha melalui pengembangan program tanggung jawab sosial perusahaan yang sering dikenal sebagai program CSR (Corporate Social Responsibility).

Hanya dengan cara ini kiranya kita dapat mengupayakan para nelayan dapat berdampingan dengan para penangkap ikan kapal besar. Bahkan melalui Perusahaan yang dibentuk seperti dimaksud di atas, para nelayan juga dapat mengekspor hasil tangkapannya dengan jaminan harga terbaik. Model kluster seperti ini juga dapat diterapkan pada kegiatan ekonomi lain.

If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar

(wajib)

(wajib)