Tantangan Mendorong Peningkatan Investasi dan Kegiatan Sektor Riil

“…sejumlah peluang tetap terbuka untuk meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia. Pengalaman selama ini menunjukkan betapa pentingnya langkah-langkah penanganan sektor riil, khususnya perbaikan iklim investasi dan percepatan pembangunan infrastruktur. Langkah-langkah ini sangat menentukan untuk meningkatkan kapasitas perekonomian nasional dalam memenuhi permintaan dan … sekaligus meminimalkan kerentanan terhadap kejutan eksternal…”

Demikian secuplik tulisan dari buku Laporan Perekonomian Indonesia 2005, sebuah laporan yang berisi kajian komprehensif dan merupakan pandangan Bank Indonesia terhadap perekonomian 2005, tantangan dan prospek perekonomian, serta arah kebijakannya. Peluncuran buku ini dilakukan di tengah seminar yang mengangkat topik “Tantangan Mendorong Peningkatan Investasi dan Kegiatan Sektor Riil”, Senin, 20 Maret 2006, di Ruang Serbaguna Menara Sjafruddin Prawiranegara lt. 3, Bank Indonesia Jakarta. Pembahasan ini juga sejalan dengan diterbitkannya Inpres No.3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi, yang berisi serangkaian program dan tindakan dengan tujuan memperbaiki iklim investasi yang mencakup berbagai aspek.

“Pada tahun 2005 Bank Indonesia menempuh serangkaian kebijakan yang ditujukan untuk mengembalikan stabilitas makroekonomi. Untuk mendukung kebijakan moneter yang cenderung ketat dalam mengendalikan inflasi, Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai paket kebijakan yang ditujukan untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar melalui pengendalian transaksi yang bersifat spekulatif, pengendalian ekses likuditas perbankan, dan koordinasi dengan Pemerintah dalam manajemen permintaan valas,” demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, saat membuka seminar tersebut.

Seminar ini diisi oleh Hartadi A. Sarwono, Deputi Gubernur, Bank Indonesia yang mempresentasikan prospek ekonomi dan faktor risiko yang dihadapi, serta arah kebijakan moneter dan perbankan. Pradjoto, pakar hukum perbankan menyampaikan pandangan mengenai aspek kepastian hukum dan good governance dalam upaya mendorong peningkatan investasi. Sedangkan Komara Djaja, SesMenko Perekonomian menyampaikan langkah-langkah implementasi paket kebijakan perbaikan iklim investasi, dan pembangunan infrastruktur ke depan.

Burhanuddin juga menyampaikan prospek perekonomian Indonesia di tahun 2006, dimana perekonomian diperkirakan akan berada pada kisaran 5,0-5,7% dan inflasi kembali turun seiring dengan nilai tukar yang stabil dan cenderung menguat. Kegiatan ekonomi yang kembali menguat diperkirakan akan terjadi pada paro kedua 2006 sehubungan dengan kemungkinan terjadinya perbaikan iklim investasi dan kepastian usaha. Sementara itu, perkembangan nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2006 diperkirakan akan relatif stabil dengan kecenderungan menguat secara gradual seiring dengan perbaikan di lalulintas modal swasta, membaiknya premi risiko, dan berakhirnya siklus pengetatan moneter global. Sumber pasokan valas khususnya dari FDI diperkirakan membaik sehingga akan menurunkan volatilitas nilai tukar dibandingkan tahun 2005. Seiring dengan menguatnya nilai tukar, tekanan terhadap inflasi IHK diprakirakan akan semakin berkurang dan mencapai 7-9% (yoy) pada akhir tahun 2006.

sumber: Bank Indonesia

One Comment

  • isabella
    29 August 2006 | Permalink |

    artikelnya sudah baik, namun datnya saya nilai kurang mendukung/kurang banyak data pendukung yang menunjukkan bukti dari sektor riil

Leave a comment

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *